SISTEM ZONASI SEKOLAH DI JERMAN: Pengalaman Lil A Masuk Gymnasium


Tadinya aku nggak mau ikut-ikutan nulis tentang zonasi yang sedang ramai dibicarakan di Indonesia. Tapi karena banyak yang ingin tahu tentang sistem sekolah di sini, aku akan membagikan pengalaman keluarga kami ‘mencarikan’ sekolah menengah buat Lil A (11 tahun). Semoga bisa menambah wawasan.
Kami tinggal di kota Frankfurt am Main di negara bagian Hessen. Sekolah dasar (Grundschule) di sini, sama dengan sebagian besar negara bagian lain di Jerman, hanya sampai kelas 4. Mulai kelas 5, anak-anak masuk sekolah menengah yang terbagi menjadi tiga macam: Hauptschule, Realschule, dan Gymnasium. Jerman menerapkan wajib belajar sampai anak-anak berusia 16 tahun. Undang-undang mengamanatkan setiap anak (tidak peduli status kependudukannya, apakah imigran atau refugee) berhak mendapatkan akses pendidikan, selama anak ini tinggal di Jerman dan belum menginjak usia 16 tahun. Pemerintah wajib menyalurkan anak usia sekolah ke sekolah terdekat dengan tempat tinggal.
Ini mirip dengan ketika kami mencarikan sekolah dasar (Primary School) di Sydney, Australia, untuk Big A dulu. Setelah mempunyai alamat tetap, kami disarankan mendaftar langsung ke SD negeri terdekat. Selama ada tempat, sekolah tidak boleh menolak murid.
Ketika kami datang ke Jerman tahun lalu, kami mendaftarkan Lil A ke Schulamt, semacam dinas pendidikan kota. Di sana, kami ditanya, Lil A sudah berapa tahun mengenyam pendidikan formal di sekolah (Fyi, Jerman melarang homeschooling). Lil A juga dites kemampuan dasarnya. Dia disuruh menulis tentang dirinya sendiri dalam bahasa Ibu (bahasa Indonesia) dan bahasa Inggris, lalu disuruh membaca sendiri tulisannya. Kemudian dia dites matematika dasar yang sangat sederhana. Lil A juga diwawancara tentang hal-hal yang dia sukai. Setelah asesmen sebentar, kami langsung diberi sekolah terdekat dengan rumah yang mempunyai bangku kosong untuk anak-anak yang belum bisa bahasa Jerman. Nanti setelah belajar intensif bahasa Jerman selama minimal satu semester, anak-anak bisa bergabung dengan kelas reguler.
Saat masuk ke intensive klasse, Lil A sudah kelas 4 SD di Indonesia, semester kedua. Tapi dia harus mengulang kelas 4 SD di sini, mundur satu tahun karena harus belajar bahasa Jerman.
Setelah mengikuti intensive klasse selama 3 term, Lil A boleh masuk kelas biasa, tingkat terakhir di Grundschule. Saya waktu itu cemas, apakah akan ada tes, semacam ujian nasional agar bisa lulus SD. Maklum saja, saya sendiri tidak bisa membantu Lil A untuk pelajaran bahasa Jermannya. Tapi ternyata, tidak ada ujian besar apapun di sekolah dasar di sini. Hanya ada ulangan-ulangan kecil untuk memantau perkembangan setiap anak. Misalnya ulangan Matematika, hanya ada 6 kali ulangan dalam setahun. Soalnya esai, sekitar 7 butir soal. Begitu juga dengan ulangan bahasa Jerman. Lil A juga pernah diminta membuat presentasi tentang sesuatu yang khas di Frankfurt, dan dia memilih membuat presentasi tentang Goethe Haus (rumah masa kecil Johann Wolfgang von Goethe yang dijadikan museum).
Di akhir masa belajarnya di Intensive Klasse, di bulan Desember tahun lalu, Lil A mendapatkan rekomendasi dari guru untuk meneruskan ke Gymnasium, sekolah menengah jalur akademis yang nantinya bisa meneruskan ke universitas. Jalur sekolah menengah lain (Hauptschule dan Realschule lebih diarahkan untuk ketrampilan non akademis, meski tetap bisa masuk universitas, namun dengan jalan yang lebih berliku). Jadi tidak semua anak SD bisa masuk ke Gymnasium (semacam SMA kalau di Indonesia, namun di sini sampai kelas 13). Realschule hanya sampai kelas 10, dan lulusannya bisa langsung magang (sekolah sambil kerja, yang bisa langsung mulai mendapatkan penghasilan).
Bulan Februari tahun ini, setiap orang tua murid dipanggil menghadap guru kelas. Kami diberi formulir untuk mencari Gymnasium yang cocok untuk Lil A. Kami boleh memilih dua Gymnasium, pilihan pertama dan pilihan kedua. Kriteria yang akan dipertimbangkan oleh sekolah dalam menerima murid adalah kedekatan dengan tempat tinggal, pilihan bahasa asing kedua (Inggris, Perancis, atau Spanyol), dan kecocokan dengan minat siswa. Di sini ada beberapa Gymnasium untuk minat musik, sains, dan olahraga. Saya dan Nino sudah browsing-browsing Gymnasium yang dekat dengan tempat tinggal kami. Ada dua incaran kami. Namun wali murid Lil A dengan hati-hati menyarankan agar kami memasukkan pilihan sebuah Gymnasium baru di dekat wilayah kami juga (yang ternyata di sebelah kantor Nino di Goethe Uni), yang akan menerima siapa pun yang mendaftar ke sana. Ketika kami minta menjelaskan, sebenarnya kriteria seperti apa yang dipakai untuk menentukan pilihan, Bu Guru menjelaskan kalau kriteria ‘asli’nya memang kedekatan, pilihan bahasa asing, dan minat. Namun proses diterimanya seorang siswa tidak pernah benar-benar transparan. Selain sekolah baru yang diusulkan Bu Guru, beliau juga menyarankan satu Gymnasium lagi yang menurut beliau cocok untuk Lil A. Namun ternyata bahasa asingnya adalah bahasa Spanyol. Kami keberatan karena akan terlalu membebani Lil A kalau harus belajar dua bahasa baru. Lebih baik kami mendaftar di sekolah yang menawarkan bahasa Inggris sebagai bahasa asing.
Di pertemuan itu, kami belum menentukan pilihan. Formulir boleh dibawa pulang dan diserahkan kembali bulan Maret.
Setelah browsing lagi sana-sini, Nino menemukan bahwa dua Gymnasium yang ada di dekat kami termasuk ‘sekolah favorit’. Salah satunya adalah sekolahnya Erich Fromm, mungkin ada yang kenal ­čśŐ Mereka memberi syarat tambahan untuk murid yang ingin mendaftar ke sana, bisa menunjukkan bahwa si siswa punya minat dan bakat di bidang musik atau sains, sesuai kekhususan sekolah tersebut. Misalnya si anak sudah les musik, pernah menang lomba, dll. Kami jadi mikir-mikir… mungkin nggak ada salahnya mendaftar di sekolah baru yang disarankan guru. Kayaknya sebagai pendatang kami harus tahu diri. Lil A pun gak punya sertifikat musik yang bisa dijadikan poin tambahan. Lagipula, toh, kualitas tiap sekolah nggak bakalan njomplang banget. Dan itu lah yang kami lakukan.
Setelah harap-harap cemas selama dua bulan, akhirnya kami mendapatkan jawaban langsung dari sekolah. Sebenarnya nggak perlu cemas sih, karena setiap anak dijamin mendapatkan tempat di sekolah menengah. Selain dua pilihan Gymnasium, kami juga disuruh memberi pernyataan, jika tidak diterima di dua sekolah tersebut, apakah akan tetap minta dicarikan Gymnasium, meski lokasinya lebih jauh, atau mau memilih sekolah lainnya (Realschule), yang penting dekat dengan rumah. Kami memilih, masuk ke jalur Gymnasium lebih penting.
Alhamdulillah, Lil A diterima di Adorno Gymnasium. Adorno ini filsuf ternama, putera daerah Frankfurt, yang makamnya hanya 500 meter dari rumah kami. Dua minggu lalu saya dan Nino menghadiri information night di sekolah Adorno, dan berkesempatan bertemu dengan kepala sekolah dan para ortu siswa lainnya. Dari penampakannya, sekolah ini cukup multikultural. Oh, ya, sekolah di sini gratis. Buku-buku pelajaran pun dipinjami tanpa biaya. Tidak ada biaya seragam karena nggak pakai seragam. Ortu hanya keluar uang untuk biaya buku tulis dan alat tulis, dan kadang untuk acara di luar sekolah.
Saya akui, mencari sekolah menengah di sini tidak seheroik mencari sekolah di Indonesia. Lulus SD nggak perlu pakai ujian nasional, mendaftar sekolah menengah nggak perlu pakai nilai dan tanpa tes, hanya dari rekomendasi guru berdasarkan pengamatan sehari-hari. Dan semua anak dijamin mendapatkan bangku sekolah. Ketika kami ikut Elternabend (pertemuan wali murid) seminggu yang lalu, Bu Guru memberi tahu bahwa 90% siswa diterima di pilihan pertama. Sementara sisanya di pilihan kedua dan atau sekolah lain yang dipilihkan oleh dinas pendidikan. Ini semua sekolah negeri ya. Sekolah menengah swasta sedikit sekali di sini. Sekolah internasional biasanya untuk anak-anak expat yang menggunakan pengantar bahasa Inggris. Biayanya mahal sekali untuk sekolah internasional.
Beda banget dengan pengalaman kami mencarikan SMA Negeri untuk Big A, dua tahun lalu. Kami harus menelan pil pahit, Big A tidak berhasil masuk di sekolah pilihan pertamanya, meski masih bisa diterima masuk sekolah negeri pilihan kedua, yang memang lebih dekat dengan rumah.
Idealnya memang semua anak usia wajib belajar bisa diterima di sekolah lanjutan. Tapi kenyataannya, sekolah milik pemerintah tidak cukup untuk menampung semua siswa. Karena itu harus ada seleksi. Idealnya, seleksi berdasarkan kedekatan dan tingkat kemampuan keluarga dalam mengakses pendidikan (ini menurut Nino), bukan dengan seleksi berdasarkan prestasi (yang sangat dipengaruhi oleh tingkat sosial ekonomi keluarga). Ini untuk memastikan agar semua anak yang masuk usia wajib belajar mendapatkan akses pendidikan. Kalau soal pemerataan kualitas pendidikan, kurasa bahwa sekolah favorit itu kualitas pengajarannya lebih baik, tidak sepenuhnya benar. Selama ini 'kualitas' sekolah hanya ditentukan dari lulusan, hasil akhirnya saja, tanpa mempertimbangkan proses dan output. Tentu saja sekolah favorit yang inputnya sudah terseleksi akan menghasilkan lulusan dengan nilai ujian yang baik juga. Aku sendiri tentu saja lebih senang kalau anakku bersekolah di lingkungan yang iklim belajarnya bagus, bersama teman-teman yang semangat belajar dan bekerja sama dengan baik.
Saya ikut bersimpati dengan keluarga yang kecewa ketika gagal masuk ke sekolah yang diinginkan. Saya pun pernah ada di posisi tersebut, gagal masuk SMA favorit di Jogja karena terkena kuota provinsi, meski nilai UN saya terbaik se kabupaten  Saya sempat tanya ke Nino, “What should parents do when their kids are not accepted at their chosen school?” Nino njawabnya, “Grow up!” Hmm… benar juga sih. Orang tua yang masih saja melampiaskan kekesalannya dengan cara tidak sehat, tidak akan membantu anak untuk menerima keadaan dan move on. “There is a silver lining in everything. Kalau nggak bisa jadi buntut buaya, ya jadilah kepala cicak. Kalau anakmu pintar, dan dapatnya sekolah non favorit yang teman-temannya mungkin ‘kurang beruntung’, dorong anakmu untuk berbagi dengan mereka, jadilah pelopor karena selama ini kamu sudah mendapat privilege hidup yang lebih nyaman.”
Ingatanku mendadak menerawang ke zaman SMA. Di tahun pertama aku benar-benar struggle untuk mengobati kekecewaan gagal masuk sekolah favorit. Tapi di tahun kedua, aku sudah jadi ketua OSIS, dan selalu terpilih jadi wakil sekolah untuk lomba. Banyak alasan untuk bolos kelas  Di tahun ketiga, aku bisa masuk UGM tanpa tes. Nggak masuk ‘sekolah favorit’ bukan akhir dari segalanya. Kuharap setelah ini kuota masuk universitas tanpa tes masing-masing SMA juga disesuaikan, agar setiap anak punya kesempatan yang adil.
Frankfurt, 23 Juni 2019

Comments

Popular posts from this blog

Resep Diet Mayo 13 Hari

TIP MEMBACAKAN BUKU UNTUK ANAK BATITA & BALITA

MOTHER MONSTER

Pengalaman Diet Mayo: 13 Hari Turun 4,5 Kg Tanpa Olahraga

Inspirasi Dapur Mungil Fungsional

REVIEW DUA GARIS BIRU: KEHAMILAN REMAJA DAN HAL-HAL YANG TIDAK KITA BICARAKAN

Proyek Beres-Beres Isi Lemari: Capsule Wardrobe Inspiration

RESEP Baked Rosemary Chicken