ACCEPTANCE



Saya di gedung pusat Goethe Uni :)

Tahun 2014, saya mendaftar program S2 di salah satu universitas di Surabaya. Ditolak :( Lima tahun kemudian, saya diterima di program S2 salah satu universitas bergengsi di Jerman.

Begini ceritanya…

Alasan saya ditolak di program S2 di universitas tersebut karena... S1 saya tidak linier. Program S2 yang saya minati ini di rumpun ilmu humaniora, sementara saya sendiri sarjana sains, tepatnya lulusan Kimia UGM. Banyak yang kaget ketika saya beritahu kalau saya anak MIPA. Banyak yang nggak percaya juga. Saya sendiri kadang juga nggak percaya, kok bisa sampai lulus, hehehe. Yang kaget terutama teman-teman yang mengenal saya belakangan, yang tahunya saya berkecimpung di dunia kepenulisan, yang tahu saya bekerja part time sebagai editor dan penerjemah, dan isi medsos saya yang sering kampanye tentang literasi. Saya yang nggak pernah ngungkit-ngungkit Kimia sama sekali. Ha gimana, udah lupaaa *tutup mata.

Tadinya saya juga ragu apakah ijazah S1 saya bisa diterima di program ini. Tapi teman-teman dari fakultas meyakinkan saya kalau ijazah saya bisa diterima, tidak ada salahnya mencoba. Lagipula sudah pernah ada contoh beberapa tahun lalu mereka menerima lulusan dari fakultas Teknik. Yang tidak saya antisipasi adalah sistem pendaftaran universitas ini yang terpusat, ditangani langsung oleh universitas, bukan fakultas. Berkas saya ditolak oleh petugas pendaftaran, sebelum saya bisa mengikuti semacam tes TPA. Melayang lah ratusan ribu rupiah uang pendaftaran plus impian saya untuk kuliah S2. Kalau dipikir-pikir, mungkin salah saya sendiri juga sih.

...
Nggak mau berlarut-larut dalam kekecewaan, beberapa bulan kemudian saya memutuskan mengambil kuliah S1 lagi, kali ini di bidang humaniora. Saya mengambil program Sastra Inggris, bidang minat penerjemahan di Universitas Terbuka. UT membuka pendaftaran mahasiswa baru di semester ganjil maupun genap. Jadi saya bisa mendaftar di awal bulan Januari 2015. Waktu itu saya belum berani bilang ke siapa-siapa kalau saya kuliah S1 lagi, belum koar-koar di medsos juga. Takutnya saya gagal, atau bosan. Tapi setelah saya berhasil di semester pertama (dengan IP nyaris 4) saya mulai berani pamer. 

Universitas Terbuka (UT) bisa jadi salah satu pilihan untuk kuliah buat orang-orang yang belum sempat kuliah selepas SMA, putus kuliah, atau pun salah jurusan (kayak saya :p). Kuliah di UT bisa disambi kerja, bisa disambi momong anak, bisa disambi macam-macam lah karena kuliahnya online atau bisa belajar mandiri dari buku teks dan sumber lain. Waktu yang perlu disisihkan adalah dua kali hari Minggu di akhir bulan Mei dan bulan November untuk ujian akhir semester. Saya berani bilang kalau kualitas ujian di UT ini bagus. Dan nggak ada pengatrolan nilai sama sekali. Kalau kamu nggak belajar, ya nggak bakalan bisa ujiannya, dan nilaimu pasti jelek. Sering ada yang bilang kalau UT itu 'ulang terus'. Tapi yang jelas bukan saya :p

Saya berhasil lulus S1 dalam tujuh semester (3,5 tahun). Ujian kompre di semester terakhir saya lakukan di KJRI Frankfurt, karena saya harus bertugas mendampingi suami yang mengambil post-doc di Jerman. Enam semester sebelumnya, lokasi ujian saya menumpang di Fakultas Hukum Universitas Airlangga, Surabaya. Bagi yang belum tahu, UT itu hanya ada satu, kantor pusatnya di Jakarta, sementara kantor cabang (istilahnya UPBJJ) ada di mana-mana, termasuk di luar negeri. Jadi kalian bisa kuliah UT dari mana saja. Semua info tentang UT ada di website-nya yang super lengkap: www.ut.ac.id

Saya salah satu lulusan terbaik UPBJJ Luar Negeri, yang sebenarnya diundang wisuda di kantor pusat UT di Jakarta. Sayangnya saya nggak bisa datang karena nggak ada ongkos, hehe.

Bulan Oktober 2018, saya sudah berhak menyandang gelar Sarjana Sastra (dan tetap punya gelar Sarjana Sains juga). Duh, rasanya saya pengen segera nambahin gelar di Kartu Keluarga, wkwkwk. Sebelum kalian menghujat saya karena 'nyombongin' gelar, saya lebih baik klarifikasi dulu. Saya bukan penyembah gelar atau titel. Saya mengulang kuliah S1 lagi juga bukan demi gelar. Saya kuliah lagi demi cita-cita saya yang sempat tertunda.

Tahun 1998 (sudah lahir kah kalian?), saya diterima di Kimia UGM melalui program PMDK/PBUD alias tanpa tes. Tidak seperti sekarang, zaman itu, hanya sedikit sekali yang bisa diterima di UGM tanpa tes. Apalagi kalau bukan dari SMA favorit. Ada rumor, kalau mahasiswa yang diterima masuk tanpa tes tersebut tidak menggunakan jatahnya, atau pindah jurusan di tahun kedua, maka SMA asalnya akan di-blacklist atau dikurangi jatahnya. Meski bukan informasi resmi, saya tidak berani mengambil risiko untuk pindah jurusan. Meski di akhir tahun pertama, saya mulai jatuh cinta pada dunia linguistik dan jurnalistik.

Saya tidak punya kemewahan untuk pindah jurusan, seperti yang dilakukan oleh beberapa teman seangkatan saya. Bahkan ketua angkatan kami pun pindah jurusan, hahaha. Selain rumor tentang penalti PMDK/PBUD, alasan paling penting yang membuat saya tidak berani pindah jurusan adalah masalah biaya. Keluarga kami waktu itu bukan keluarga berada. Orang tua saya penjahit, dan biaya kuliah saya hanya cukup untuk SPP dan transport. Untuk tambahan uang jajan, saya menerima pesanan sprei, dan juga berjualan tas. Menyia-nyiakan satu tahun pertama kuliah tentu bukan pilihan bijaksana.

...

Anyway, saya lulus Kimia, dan bertahun-tahun kemudian lulus Sastra Inggris. Dan saya masih ingat dengan dokumen pendaftaran S2 saya yang ditolak. Ketika menyimpan berkas tersebut dalam kotak, ketika saya beres-beres akan pindah ke Jerman, saya membatin, "Biarlah nanti aku ingat berkas ini dengan tersenyum, kalau aku bisa diterima di Universitas luar negeri."

Saya menemukan ada program Master of Southeast Asian Studies di Goethe Universität, Frankfurt, di Fakultas Languages and Cultural Studies. Alhamdulillah program ini menggunakan bahasa Inggris, karena kalau memakai bahasa pengantar bahasa Jerman, saya belum memenuhi syarat. Tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, saya baca dengan hati-hati syarat-syarat pendaftarannya. Program ini menerima lulusan S1, bukan hanya dari Cultural Studies, tapi juga dari ilmu humaniora lain, asalkan CV dan Motivation Letter-nya cukup meyakinkan. I think I can do that. Untuk program ini juga ada syarat TOEFL minimal 87. I also think I can do that. Meski untuk ujian TOEFL ini saya agak takut. Saya sampai perlu menghentikan kursus bahasa Jerman saya satu bulan demi persiapan tes TOEFL, agar nggak bingung belajarnya. Alhamdulillah hasil tes TOEFL bisa memenuhi syarat.

Ketika mendapat Letter of Acceptance dari Goethe Uni, saya menangis terharu.

Mengingat saya 'hanya' menggunakan ijazah UT untuk mendaftar.
[Universitas yang pernah menolak saya belum tentu mau menerima ijazah UT yang akreditasinya di bawah universitas tersebut].

Mengingat doa saya bertahun-tahun lalu yang sangat ingin mendapatkan beasiswa di luar negeri. Akhirnya Tuhan mengabulkan dengan cara lain, suami saya mendapatkan post doc di negara yang menggratiskan biaya pendidikan tingginya, sehingga kesempatan saya sekolah terbuka tanpa mengeluarkan tambahan biaya yang berarti.

Mengingat usia saya yang nggak muda lagi, hampir 40 di akhir tahun ini. 
[Ada yang bilang, sebaiknya semakin tua lebih memikirkan bekal akhirat saja. Pendapat saya beda, selama kita masih hidup di dunia, sebisa mungkin kita bermanfaat untuk orang lain. Kalau misalnya saya bisa terus bekerja sampai usia 65 tahun, artinya saya masih bisa bermanfaat untuk orang lain selama 25 tahun lagi.]

...

Saya menikah muda di usia 21 tahun. Saya lulus S1 ketika anak pertama saya berusia dua tahun. Saya menghabiskan sepuluh tahun usia paling produktif saya untuk mendampingi anak-anak. Saya kuliah S1 lagi, sebelas tahun setelah meninggalkan bangku kuliah.
Usia saya sekarang 39 tahun, anak pertama saya sudah 17 tahun. Dan saya kadang masih ditanya atau digoda 'kapan punya anak lagi'. Terus terang saya sedih. Meski mengasuh anak adalah tugas yang mulia, perempuan seharusnya didorong atau diberi kesempatan untuk kembali berkarya ketika anak-anak sudah besar dan mandiri. Tidak selalu dengan sekolah atau bekerja lagi. Kegiatan apapun yang bisa bermanfaat untuk masyarakat sekitarnya dan dunia pada umumnya. Kita yang punya privilege pernah mengenyam pendidikan tinggi, sebenarnya punya 'hutang' untuk mengembalikan ilmu kita ke masyarakat.

Timeline setiap orang beda-beda. Mungkin ada yang sedang membaca tulisan saya ini di ruang tamu yang berantakan, nggak pernah rapi karena mainan anak-anak. Hang on there, your time will come. Mungkin ada yang baru saja ditolak aplikasi beasiswanya. Jangan menyerah, coba lagi selama syaratnya masih bisa dipenuhi. Jalan hidup tidak selalu lurus. Kadang harus melewati kelokan dulu sampai akhirnya muncul pemandangan indahnya. Jangan berhenti sebelum mencapai garis finish. 

Saya pernah ditolak di universitas di negeri sendiri. Ternyata 'takdir' saya kuliah di sini.
Everything happens for a reason.
Thank you for coming to my TED Talk.

Frankfurt am Main, 17 September 2019
@adekumala

Comments

Ahalona said…
Mbak salam kenal, saya baca thread mbak di twitter dan langsung mengarah kesini. Cerita mbak sangat memotivasi saya yang ingin mencoba s2 tapi karena sudah 3 tahun yg lalu lulus s1, jadi merasa terlambat. Ingin coba beasiswa tapi merasa cemas kalau ditolak bahkan belum mencoba. Tapi cerita mbak sangat menginspirasi dan menumbuhkan semangat saya dan mungkin orang lain seperti saya.

Selamat ya mbak semoga kuliahnya lamcar aamiin s
adekumala said…
Amin, makasih doanya. Ayo dicoba aja daftar beasiswanya, tetap semangat ya.
Thank you Mbak... harus tetap semangat menjalani hidup betatapun rintangan mencapai cita2. saya juga baru ditolak LPDP. ngomong2 sy jg jurusan kimia, S1 saya Mbak. terus interviewernya bilang, nilai verbal sy lbh tinggi dari nilai numerik saya. wah, apa sy salah jurusan ya mksd interviewernya :p hehe
tapi sy belum berani spt mbak utk banting stir pindah jurusan stlh tamat.

Popular posts from this blog

Love at Every Byte

Resep Diet Mayo 13 Hari

HIDUP BOLEH SEDERHANA, PENDIDIKAN JANGAN SEDERHANA

Me the Writer vs Me the Business Owner

Upacara Bendera

Mother's Day

Masuk ke Dunia Sihir Harry Potter

[Berakhir Pekan di Kiama] Burung Pelikan dan Mercusuar

Baca Koran Pagi

Pengalaman Diet Mayo: 13 Hari Turun 4,5 Kg Tanpa Olahraga