Inspirasi Dapur Mungil Fungsional

Dapur ini ukuran 2x 2,25 m doang :p

Lihat foto-foto dapur bersliweran di medsos jadi pengen pamer dapur juga. Ya gimana lagi, hasrat pamer menyeruak, tapi nggak ada yang bisa dipamerkan. Maklum yah, emang saya jarang masak. Jadi kalau ditantang pamer dapur, ayo! Ini dapurku, mana dapurmu? :D

Meski cuma mungil, ukuran 2 meter x 2,25 meter, perjuangan mendapatkan dapur ini tidak gampang. Setelah kami pindah ke Surabaya, baru dua tahun kemudian rak-rak dapur ini jadi. Jadi selama dua tahun, acara ngedapur saya kayak dapur pengungsian, hahaha. Gak papa sih, alhamdulillah sudah punya dapur sendiri.


Dengan luasan yang nggak seberapa dan dana terbatas, saya harus pinter-pinter ngatur tata letaknya. Jadinya dapur ini cukup jadi dapur fungsional saja sesuai kebutuhan saya. Laci-laci dapur juga cuma saya buat untuk yang di bawah saja, sementara atasnya cukup dengan satu papan kayu, dipasang sekeliling dapur. Laci-laci untuk tempat piring dan gelas/mug kering, wadah plastik ala-ala tupperware, dan wadah kaca ala-ala pyrex. Lemari dapur yang di pojokan untuk menyimpan bahan makanan kering dan alat masak yang (lebih) jarang dipakai, seperti panci besar, loyang-loyang, alat bikin mie (?), dll.

Meski sederhana, saya cinta banget sama dapur ini karena sebagian isinya barang-barang kenangan dari Ostrali dulu, waktu dapurnya lebih mentereng, tapi masih ngontrak :p Apa aja sih isi dapur ini, peralatan masak dan pernik-perniknya? Yuk kita intip yah.



Waktu saya pulang kampung ke Surabaya, Nino belum ikut pulang. Saya cuma bertiga dengan anak-anak menempati rumah baru. Belanja alat-alat dapur pun saya lakukan sendiri. Nggak masalah sih, malah bebas belanja tanpa ribut sama suami. Tinggal laporan kalau barang udah dibeli, hahaha. Untuk dua komponen penting di dapur: kompor dan kulkas, saya beli merk terbaik. Saya waktu itu dengan songongnya--kayak ibu-ibu borju yang barusan pulang dari luwar negeri--bilang ke pelayan toko elektronik, "Mbak, kulkas paling bagus merk apa ya?" Sangaaaar, sok-so-an nggak pakai tanya harga. Mumpung nggak sama Nino :p Akhirnya saya beli kulkas Hitachi dua pintu dan kompor gas dua tungku kesayangan kita semua: Rinnai. Eh gak tahu sih sekarang merk kompor gas yang paling bagus apa ya? Saya tahunya paling bagus Rinnai, sejak zaman SD dulu sih, hihihi. Dua barang ini andalan saya, nggak pernah rusak dan mudah dibersihkan.

Sebenarnya impian saya tetap punya free-standing stove, kompor empat tungku dengan oven dan grill seperti di dapur kami di Marrickville dan Lakemba dulu. Tapi bagaimana mungkiiiiin? Listrik di sini aja tegangannya naik turun, suka byar pet dan tarifnya mihil. Sayonara dah sama kompor kotak itu. Harganya juga masih mahal di kantong kami. Jadi impian kompor dengan oven disimpan dulu, duitnya buat bikin rak dapur.

Di dapur saya ini nggak pakai hood pengisap asap karena kompornya saya dekatkan ke jendela. Jadi kalau pas masak yang ada asap-asapnya ya tinggal buka jendela yang mengarah ke garasi. Beres!




Untuk rak bumbu susun, saya beli wadah plastik biru itu di IKEA, sementara raknya minta dibuatkan tukang. Beberapa peralatan dapur di sini memang IKEA punya, karena sangat praktis dan fungsional. Rak cuci piring saya juga dari IKEA. Saya cinta banget sama rak ini, karena setelah cuci piring dan gelas, bisa ditaruh dulu di situ dan akan kering sendiri. Nggak perlu nge-lap. Raknya juga kokoh banget, dengan disain yang ramping dan nggak makan tempat. Lokasi yang pas untuk rak ini memang di atas bak cuci piring karena nanti bakalan ada air yang menetes. Dengan menggantung rak piring ini di atas bak cuci, ada tempat kosong di bawah untuk meletakkan peralatan makan/masak yang lebih besar lainnya.

Piring dan mangkuk kesayangan saya merk Corelle. Saya dapat hadiah satu set waktu perpisahan sama ibu-ibu pengajian dari Marrickville dulu. Senang banget sempat dapat piring-piring ini karena di sini nggak sanggup beli. Corelle ini kece badai, disain keren, ringan, dan anti pecah. Aman kalau saya selip waktu cuci piring sambil ngelamun :D 

Tempat sendok dan garpu juga dari IKEA, yang digantungkan di ril Bygel. Ril ini cukup murah, jadi saya beli banyak untuk dipasang di mana-mana, dari gantungan handuk sampai gantungan untuk panci. Wadah plastik Bygel untuk sendok ini ada bolongan di bawahnya, jadi sisa air bisa menetes ke bawah, tidak menggenang di bawah. Perfect design! 

Seri Keep Calm saya beli di Victoria's Basement, toko di lantai bawah mal QVB, Sydney. Ini tempat saya window shopping beli printilan alat dapur murah. Dari sini saya bisa dapat koleksi seri Keep Calm (chopping board, wadah kaleng, mug, apron, & coaster), panci dan cutlery mewah merk Jamie Oliver (Nino benci banget sama sendok garpu ini karena ukuran Eropah, hahaha), tea & coffee plunger merk Bodum, dandang dan grill merk Benzer yang berat banget, cocok buat senjata ;) Alat-alat masak bermerk ini sungguh super awet. Saya bersyukur banget pernah beli barang-barang ini ketika ada diskon besar di Sydney, karena kalau beli di Indonesia dengan harga standar jelas nggak mampu. Untuk pan/wajan saya pakai merk Tefal, juga beli modal diskon di K-Mart atau Target. Kalau merk lokal sih saya percaya Maxim, buatan Sidoarjo (Maxim panci yaaa, bukan Maxim majalah :p). Tapi memang sesuai harganya, keawetan Maxim dan Tefal jauh beda. Ketika Maxim harus ganti dua kali, Tefal masih mulus-mulus aja.



Untuk pisau dapur, merk yang saya gunakan adalah Scanpan, Jamie Oliver, dan Victorinox. Pisau-pisau ini awet banget, tajam terus tanpa diasah. Pisau tajam adalah senjata dapur paling utama, bisa bikin kerjaan selesai lebih cepat. Apalagi untuk orang seperti saya yang nggak suka masak, kalau pisaunya tumpul, langsung frustasi. Udah lah, pesan makan via gojek aja ya. Duh, jangan ditiru ya :p Untuk menyimpan pisau, gunting, thong, peeler dan sebangsanya, saya memakai magnet dari IKEA. Magnet ini memang lumayan mahal sih, sekitar 300 ribuan, tapi berguna banget. Nggak ada ceritanya pisau saya nyasar ke mana-mana. Selesai cuci, pisau langsung saya tempel ke magnet. Dengan nangkring di magnet, pisau juga gampang diambil dengan aman, nggak bakal nusuk tangan tanpa sengaja. Kegunaan lain dari magnet ini, bisa juga untuk naruh kunci-kunci, cocok buat yang sering ilang kuncinya :D

Saya punya oven kecil merk Kirin, cukupan lah buat manggang pizza kalau lagi pengen. Juga untuk membuat banana bread, muffin, atau cupcake kalau lagi selooooo. Punya oven biar nggak nelangsa banget kalau anak-anak pengen bikin kue-kue. Kirin ini watt-nya cukup besar, 400W untuk menyalakan 1 elemen, dan 800W kalau full nyala dua elemen atas bawah. Kalau yang listriknya cuma 900W dijamin 'njeglek' hehehe. 

Blender juga sudah menjadi gadget dapur yang penting buat kami. Tapi kami sudah nggak pakai blender seperti yang ada di foto. Kami sekarang pakai blender Phillips untuk membuat jus hijau (green smoothie) dan untuk menggiling biji kopi (blender bagian keringnya). Saya cukup puas dengan kinerja si Phillips ini, recommended.
 

Sejauh ini saya sudah cukup puas dengan dapur mungil yang fungsional ini. Semuanya sudah sesuai dengan apa yang saya butuhkan. Untuk membuat rak dan laci-lacinya, saya memanggil tukang. Kira-kira untuk bahan habis 5 juta dan untuk ongkos tukang habis sekitar 5 juta juga, tapi pak tukang juga mengerjakan renovasi rumah lainnya sih. Saya nggak menghitung secara rinci, ntar malah stresss, hahaha. Semoga postingan ini bisa menginspirasi untuk membuat dapur yang fungsional meski luasan terbatas.

Ini foto penampakan dapur dari tangga yang menuju lantai atas. Tadinya saya pengen punya dapur dengan island atau meja untuk breakfast bar, jadi bisa ngobrol sama suami/anak-anak/teman kalau lagi masak. Eh belum kesampaian punya bar, tapi tetap bisa ngobrol di dapur sembari duduk-duduk di tangga, hahaha.

Ketika Ibu saya yang pintar masak berkunjung ke Surabaya, beliau berkata, "Apik banget dapurmu, Mbak." Saya mesam-mesem. Tapi beberapa menit kemudian, Ibu saya yang kepengen masakin sambel buat Nino, tetap aja ngulek sambil ndeprok di bawah. Hihihi, saya jadi ingat sama dapur Ibu di Salam yang seadanya, tapi dari sana, masakannya selalu istimewa. Dapur sebagus apa juga kalau kokinya nggak mumpuni juga percumaaaa. *tutup muka*



~ A.K.
Twitter: @adekumala
IG: @adekumala
FB: www.fb.com/adekumalasari

Comments

Popular Posts