KENANGAN RAMADAN DI NEGERI SEBERANG

Saya dan Big A, lebaran 2006, Dulwich Hill, NSW
Sering terjadi, saya bisa lebih menghargai sesuatu yang saya miliki atau alami setelah saya tidak memilikinya atau mengalaminya lagi. Seperti kenangan saya berpuasa di negeri yang penduduknya bukan mayoritas muslim. Kami sekeluarga sudah melewati lima ramadan di negeri Kanguru. Di tahun pertama, saya merasa nelangsa karena ramadan nggak ada gregetnya. Saya sampai bela-belain membuat kolak di hari pertama meski akhirnya hanya saya yang doyan :p Saya menangis di malam lebaran karena tidak mendengar takbir. Ini jadi lebaran nggak sih? Baru pagi harinya setelah melihat rombongan bapak ibu dengan batik kembar menuju tempat salat Ied, saya baru yakin kalau ini lebaran beneran. Di tempat salat yang digelar oleh komunitas masyarakat Indonesia di Sydney, hampir semua memakai mukena warna-warni, Indonesia banget :)


Tahun-tahun berikutnya, saya lebih bisa menikmati ramadan di Sydney. Tidak perlu ada lagi kolak pisang sebagai penanda ini bulan suci. Kami berbuka dengan teh panas, kurma dan buah-buahan lokal yang sedang musim, sambil melihat langit yang memerah dari balkon. Kami tetap berkegiatan seperti biasa, tanpa konsesi. Nino tetap pergi ke kampus, Big A tetap sekolah full day sampai sore dan saya tetap bekerja 40 jam seminggu di supermarket. Saya hanya bilang ke bos dan supervisor saya kalau saya puasa, dan minta jatah istirahat saya digeser ketika saya perlu berbuka. Bos saya imigran dari Vietnam, tidak beragama, sementara supervisor saya imigran Bangladesh, non-practicing moslem. Dia mendukung saya menjalankan ibadah dan bahkan membolehkan saya istirahat ekstra 30 menit untuk berbuka. Tapi saya menolak karena tidak adil bagi karyawan yang lain. Dengan jadwal kerja satu hari yang 8 jam, saya mendapat jatah istirahat 1 jam tanpa dibayar dan istirahat 15 menit yang tetap dibayar. Bayaran saya per jam adalah AUD 15. Hitung aja nilai korupsinya kalau saya ambil jatah istirahat ekstra 30 menit. Takut puasanya nggak berkah dan bikin kesel karyawan lain. Jadi saya gunakan waktu istirahat makan siang untuk salat dan rehat di ruangan karyawan sambil tetap mencium bau kari dari microwave, bekal teman-teman imigran India. Beberapa kali ada pertanyaan "You not eat?" Teman-teman sesama pekerja tidak tahu saya puasa, jadi saya merasa puasa saya saat itu semacam rahasia kecil saya dengan Tuhan. Kemudian Tuhan entah menggoda atau menguji saya dengan mengirim bau kari yang semerbak :)
 
Ramadan dalam kesunyian, saya bersyukur tidak harus menonton iklan-iklan sirup, obat maag, dll. Juga bersyukur tidak merasa wajib membeli baju baru, tidak merasa perlu berdesak-desakan di pasar berburu kue lebaran diskonan. Di hari raya, saya tidak perlu repot-repot memasak opor karena kami tinggal bersilaturahmi ke saudara atau teman sesama pelajar di Sydney yang lebih pintar memasak dan tentu saja... menumpang makan di rumah Bapak Konjen :D Banyak hal-hal lain yang bisa dilakukan kalau tidak terlalu sibuk dengan makanan, baju dan belanja.

Setelah kembali ke Indonesia, saya merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan hiruk pikuk ramadan di sini. Ada hal-hal yang bisa saya hindari seperti tidak menyalakan TV, nggak perlu ikut panik di pasar atau berburu diskon di Mal. Bukannya saya anti belanja ya, karena bagi banyak orang (termasuk keluarga saya yang penjahit) bulan ramadan ini adalah bulan penuh berkah dan rezeki. Hanya saja tidak perlu berlebihan. Saya pun tetap bisa menjalankan menu makan sehat sederhana, berbuka dengan takjil kurma dan buah saja. Tapi saya tidak bisa menghindari TOA yang masih menyalak sampai jam 11 malam dan sudah mulai mengudara lagi mulai jam 3. Saya tidak bisa melarang patrol sahur yang sudah mulai berisik membangunkan semua orang sejak jam 2 pagi, dan saya tak berdaya ketika anak-anak kampung bermain petasan di pekarangan kosong di samping rumah.

Menahan lapar dan haus bagi saya (dan bagi sebagian besar orang) adalah perkara mudah. Perjuangan saya di bulan ramadan adalah melawan kurang tidur. Saya merasa hak saya untuk istirahat yang cukup, dirampas oleh orang-orang yang niatnya bagus untuk beribadah dan membantu orang yang beribadah, tapi dengan cara yang tidak tepat, yang akhirnya malah mengurangi kekhusyukan bulan suci ini.

Tapi setidaknyamannya saya dengan ramadan yang hiruk pikuk di sini, saya tetap bersyukur karena di ujung bulan suci ini, saya masih diberi kesempatan untuk sungkem ke kedua orang tua dan mertua saya. Kami masih diberi kesempatan berkumpul dengan keluarga besar setelah merampas jatah Kakek Nenek dan Oma Opa bermain dengan cucu-cucu mereka selama lima tahun. 

Selamat menunaikan ibadah puasa untuk teman-teman muslim. Semoga kita bisa memenangan perjuangan puasa kita masing-masing.

~ A.K. Surabaya 5/6/2016

Comments

KORAN KERJA said…
maaf mbak saya. lagi dinas mlm, ketemu blog mbak.. apa mbak masih aktif ngeblog.. saya dulu punya akun you tube punya teman di australi. dan saya kelola dan penghasilnnya sudh 110$.. tapi saya gak tau cara mencairkannya.. bisa bantu mbak.. fb saya. echa chantique.. tolong mbak..

Popular Posts