KONTEN POSITIF

Progress Big A (14 thn) kuliah di Stanford Online
Di TL saya banyak ortu yang nge-share berita-berita 'menyeramkan' mulai dari kejadian pelecehan seksual, mainan dari kondom bekas, grup sosmed LGBT anak, tayangan kekerasan di sinetron, sms pacaran yang menjurus ke seks bebas, buku tulis bergambar pornografi, sampai buku cerita bermuatan pornografi (padahal hoax). Postingan ini dibagikan, ditambahi dengan komentar ngeri dan takut, seolah-olah seluruh dunia bersatu ingin menghancurkan anak-anak kita.

Saya sadar, tahu dan waspada bahwa ada banyak sekali hal-hal negatif di sekitar kita, di dunia maya maupun nyata. Namun saya rasa kita sebagai orang tua jangan sampai diteror oleh rasa takut. Ketakutan yang berlebihan hanya akan membuat kita mengambil keputusan yang tidak masuk akal (berlebihan) dalam mengasuh anak. Tiap kali mendapat berita ngeri, saya cek apa beritanya benar? Kalau memang benar, apa yang perlu saya lakukan untuk melindungi anak-anak saya? Sudahkah saya memberi bekal pengetahuan dan pemahaman yang cukup untuk anak saya?

Misalnya ada kasus pelecehan seksual anak (fyi, predator seksual tidak peduli orientasi seksualnya apa, sama-sama berbahaya). Cek, apakah saya sudah memberikan pendidikan seks pada anak sesuai usianya? Cek, apakah anak saya mampu melindungi dirinya sendiri dan atau mencari bantuan kalau ada apa-apa dengannya? Cek, apakah anak saya berani melapor dan bercerita kalau ada kejadian tertentu, tanpa merasa takut disalahkan? 

Selain itu, saya fokus pada konten positif di internet, termasuk penggunaan sosial media. Saya tidak menutup mata ada banyak konten pornografi di internet, termasuk dalam game, iklan, dan video klip. Apakah saya harus menjauhkan anak dari internet? Apakah saya harus mendesak pemerintah untuk menyensor semua konten porno dan kekerasan di internet? Suatu hil yang mustahal, dan sia-sia belaka. Yang ada malah konten bagus ikut disensor.
Di internet, ada banyak sekali konten positif yang bisa membantu anak kita belajar dan berpikir kreatif. Saya mendampingi anak-anak untuk bisa self-sensor. Little A (7 tahun) sudah bisa search konten anak-anak sendiri di You Tube, seperti my little pony, dora, howdini (resep dan dekorasi kue), minecraft, dll. Sensor You Tube juga bisa dilakukan dengan berlangganan channel tertentu yang kontennya ramah anak-anak. Little A juga sudah mahir men-skip semua iklan. Game pilihannya di iPad atas persetujuan saya. Lebih baik saya beli game yang bagus beberapa dolar daripada ada iklan-iklan nggak jelas di game mereka. Game yang bagus untuk anak-anak, saya merekomendasikan TOCA BOCA. 

Main game dan nonton You Tube kami perbolehkan di akhir pekan saja. Untuk hari kerja, internet hanya boleh digunakan untuk belajar, musik dan olahraga. Sejak minggu lalu, Little A mulai asyik belajar coding di code.org (ada pilihan bahasa Indonesianya, untuk anak usia mulai 6 tahun). Aktivitas ini bagus untuk melatih logika dan bisa jadi obat rindu main game :D
Untuk Big A, lebih banyak lagi konten asyik yang bisa dipilih. Saya daftar beberapa di antaranya.

http://www.inibudi.org/ https://www.khanacademy.org/ https://code.org/ https://www.youtube.com/user/crashcourse https://www.youtube.com/user/crashcoursekids https://www.youtube.com/user/1veritasium https://www.coursera.org/ https://www.edx.org/ http://lagunita.stanford.edu/ https://www.duolingo.com/

Sekarang ini Big A sudah masuk minggu kedua kuliah online Computer Science 101 di Stanford Uni. Perkembangannya cukup bagus. Dia enjoy belajar dan hasil ujiannya yang baik meningkatkan rasa percaya dirinya.

Bagaimana melawan konten buruk di internet? Jawabannya dengan fokus ke konten yang positif. Bagaimana dengan konten buruk di tayangan TV? Gampang, ambil remote dan matikan. Ada yang masih bisa melihat konten positif di TV? Sila pilih program yang bagus, tonton bersama dengan anak-anak, kalau bisa dibatasi di akhir pekan saja. Kalau saya dan keluarga sih sudah berhenti nonton TV :)

~ A.K.

Comments

Popular Posts