KOMPLET

My two beautiful and smart daughters. I'm complete alright.
"Kapan nambah anak satu lagi? Yang cowok, biar komplet!"
Saya agak gimanaaa gitu kalau denger kalimat di atas. Biasanya sih memang diucapkan dengan nada guyon, atau basa-basi kalau nggak ada hal lain yang bisa diomongkan. Saya biasanya juga cuma nyengir aneh. Mesti jawab apa coba? 


Pertama, kita tidak bisa memilih jenis kelamin anak. Semua juga tahu, kan? Kekhawatiran saya, keputusan untuk memiliki anak berikutnya hanya karena preferensi jenis kelamin, dan akhirnya tidak terkabulkan, akan menimbulkan kekecewaan dan berakibat buruk pada bayi.

Yang kedua, saya sudah merasa komplet dengan dua anak sekarang ini, perempuan semua. Kalau pun misalnya saya diberi anak laki-laki semua, insyaallah saya juga akan merasa komplet. Apa sih sebenarnya bedanya memiliki anak laki-laki dan anak perempuan? Kalau perempuan bisa didandani, diajari menjahit, diajak masak bareng? Well, anak perempuan pertama saya nyatanya tidak suka didandani. Kalau pun misalnya saya punya anak laki-laki pun tetap akan saya ajari ketrampilan dasar memasak, menjahit, mencuci baju, merawat adiknya, dan lain-lain. Anak-anak saya yang perempuan juga suka bermain Lego, mahir merakit robot, mobil dan jet. 

Sungguh, saya sudah merasa komplet, meski tidak bisa menggelar hajat sunatan :p

~ A.K.

Comments

Popular Posts