MEMILAH SAMPAH

Sampah daur ulang. Abaikan merk :p

Saya belajar memilah sampah ketika tinggal di Sydney, tahun 2006. Nggak sukarela sih belajarnya. Pemkot sana mewajibkan setiap rumah tangga (penghuni rumah atau apartemen) untuk memilah sampah yang bisa didaur ulang. Sampah biasa ditaruh di tong sampah dengan tutup merah, sementara sampah yang bisa didaur ulang dibuang di tong sampah bertutup kuning. Tong merah diangkut truk sampah seminggu sekali, sementara tong kuning dikosongkan setiap dua minggu sekali. Pemkot mengkampanyekan dengan jelas apa yang bisa didaur ulang, termasuk kardus, botol beling, botol plastik, dll. Kalau ada barang-barang yang sebenarnya tidak bisa didaur ulang tapi dimasukkan ke tong kuning-misalnya tas kresek-tukang sampah tidak akan mau mengangkut sampah kita. Jadi yaa... terpaksa belajar.

Lama-lama kami sekeluarga jadi terbiasa memilah sampah. Rasanya kok eman (sayang) kalau benda yang masih bisa dipakai hanya berakhir di TPA. Setelah pulang ke Surabaya, saya ingin menerapkan ini di rumah. Pertama, saya titip ke Tukang Sampah yang mendorong gerobak keliling. Sampah-sampah yang masih bisa didaur ulang saya pisahkan dan saya titipkan. Tapi nasib sampah daur ulang ini cuma bercampur dengan sampah-sampah lain di gerobaknya. Duh, sia-sia kan pilah sampah. Akhirnya saya punya solusinya. Sampah daur ulang tetap saya pisahkan. Tiap seminggu dua kali saya berikan ke pemulung tua yang lewat depan rumah. Beliau gembira sekali tiap saya beri sampah daur ulang ini, bisa dapat banyak, bersih, tanpa perlu mengorek-orek tempat sampah. Beliau berterima kasih pada saya. Padahal saya yang harus berterima kasih pada beliau yang mau mengurusi sampah-sampah saya dan mengurangi rasa bersalah saya menimbun sampah di bumi ini.

Poster pilah sampah di Sydney
Simbok pemulung langganan

Di rumah tangga saya sekarang, ada 3 kategori sampah: 
(1) sampah biasa, 
(2) sampah organik (basah), dan 
(3) sampah daur ulang. 

Sampah organik adalah segala sesuatu yang bisa membusuk: sisa sayuran, kulit buah, biji, sisa teh, sisa kopi, nasi basi, tulang ayam, dll. Sampah organik saya buang di lubang 1x1 m yang digali di halaman belakang. Luwangan (lubang sampah) ini tidak pernah penuh, wong sampah-sampahnya bisa membusuk sendiri. Sampah biasa saya taruh di tempat sampah ukuran sedang yang dilapisi dengan tas kresek. Kira-kira tiap dua hari kami memproduksi satu kresek sedang sampah. (Maafkan kami, Bumi). Sampah daur ulang kami biasanya kardus susu UHT, botol plastik bekas minuman, botol kaca, kaleng susu, kertas bekas, kertas koran, kardus, rol tisu, dll. Sampah daur ulang saya pisahkan di tempat sampah kering yang ukurannya lebih besar dari sampah biasa. Saya senang karena sampah biasa saya selalu lebih sedikit daripada sampah organik dan sampah daur ulang. Saya, seperti manusia modern lainnya memang tukang produksi sampah, tapi ya gak gitu-gitu amat lah ngotorin buminya. 

Saya salut dengan aktivis di kampung-kampung yang berhasil membuat bank sampah. Kalau di kampung kalian belum ada bank sampah, minimal bisa mulai dari diri sendiri memilah sampah. Gampang kok, cuma perlu pembiasaan. Hasilnya lebih sedikit mengotori bumi dan sampah daur ulangnya bisa berguna buat orang lain. Yuk belajar memilah sampah, mulai dari diri sendiri. 

A.K.
@adekumala

Comments

Vix alexa said…
Klo namanya sampah paling sensitif banget yaa, padahal gampang klo bisa di atur gini tp yang lain nya kebanyakan malah masa bodo -__-

Nonton film online

Popular Posts