Sirkus Jalan Raya


Foto oleh Anindito


Naik sepeda motor.
Bapaknya pakai helm, anaknya enggak.
Bapaknya dilindungi helm. Anaknya dilindungi Tuhan.

Entah di mana saya baca ini, status facebook teman atau update twitter. Yang jelas kalimat-kalimat ini selalu terngiang di kepala saya.

Saya mengantar anak-anak ke sekolah dengan naik sepeda. Little A duduk di boncengan, sementara Big A mengendarai sepeda sendiri. Jarak dari rumah kami ke sekolah sekitar satu kilometer, melewati gang konblok di kampung dan kemudian sepotong jalan raya beraspal. Kawan seperjalanan kami di pagi dan sore hari adalah abang penjual tahu, sepeda motor berpenumpang empat, becak motor, angkot tua, dan SUV yang mengambil lebih dari separuh jalan. Masing-masing kawan seperjalanan ini selalu menyapa kami dengan klakson mereka. Ada yang menyapa sopan, dua kali 'honk' pelan, sekedar tanda kalau mereka akan menyalip kami. Ada yang memang suka mengklakson apa saja seperti siulan riang di pagi hari. Tapi ada juga yang mengklakson panjang memekakkan telinga seolah-olah kami sengaja menghalangi jalan dan tidak mau minggir. Padahal kami selalu jalan di pinggir kiri, sejengkal dari selokan. Sapaan klakson ini akhirnya menjadi biasa di telinga saya yang mulai menerima hiruk pikuk suara di Indonesia :) Sebenarnya, kawan seperjalanan yang paling menakutkan bagi saya adalah anak-anak SMP (bahkan SD) yang mengendarai sepeda motor tanpa helm, tanpa takut, tanpa peduli dengan pengendara lain. Kata suami saya, anak-anak usia segini memang belum lengkap fungsi otak yang menghitung resiko. Pantas saja, tingkah mereka seolah-olah mereka punya cadangan nyawa! Cari selamat, saya selalu menjaga jarak dari anak-anak ini. Kalau perlu berhenti dulu sampai mereka melesat pergi.

Dengan kawan-kawan seperjalanan seperti itu, sebenarnya absurd kalau kami tidak mengenakan helm pelindung. Kalau sampai jatuh ya wasalam.

Sirkus jalan raya ini kami mulai jam 7.30 . Melewati jembatan kecil di atas kali hitam, melewati ibu-ibu yang menyuapi balitanya dengan gendongan jarik, melewati masjid besar yang belum jadi, melewati dua ibu-ibu berdaster yang duduk di bangku kayu asyik mengobrol, melewati poskamling dengan poster Bung Karno, melewati mbak-mbak yang sedang mengucek cucian di depan rumah, dilewati pedagang kerupuk dengan rombong dan gendongan megah seperti sayap merak, melewati tiga mahasiswa Stikes berseragam putih yang tidak mau minggir, melewati emak pedagang sayur yang manyun di depan kios kecilnya, melewati satpam kantor yang berbisik-bisik. Kemudian kami berbelok ke jalan raya, bergabung dengan gelombang mobil-mobil SUV pengangkut anak sekolah, dengan sepeda motor berpenumpang empat, dengan becak motor. Di jalan raya milik bersama ini, kami harus menjaga keseimbangan untuk tidak melewati jalur pasir di pinggir jalan yang kadang membuat ban sepeda kami meleset. Sambil mendengarkan simfoni pagi klakson, dan mewaspadai anak-anak bersepeda motor yang kakinya sebenarnya belum bisa menjejak tanah tanpa berjinjit. Sampailah kami di sekolah, disambut senyum satpam, kepala sekolah dan ustadz-ustadzah.

Di tengah-tengah kampung, kami merasa seperti rombongan sirkus lewat. Boncengan sepeda jenis ini saja sudah aneh, apalagi membonceng sepeda memakai helm. Ketika kami lewat, para ibu kasak kusuk dan anak-anak balita meneriakkan, "Buk, Buk, adeknya lucu!" Rupanya keselamatan jalan raya masih dianggap sesuatu yang 'lucu' di kampung ini. Tapi saya juga senang bisa membuka 'wacana' bahwa ada orang aneh yang bersepeda di kampung memakai helm dan ternyata ada boncengan yang tidak membuat kaki balita tergerus jeruji sepeda. Tsah, wacana :D Pernah ada pengendara sepeda motor yang menjajari saya pelan, sempat membuat saya takut. Ternyata dia cuma mau tanya beli di mana boncengan seperti ini. Pertanyaan yang sama datang dari ustadzah, orang tua murid, penjual pulsa, penjual bakso, dan Emak-emak penunggu warung sayuran yang selalu berwajah muram. Yang terakhir ini begitu terkejut ketika saya menyebut harganya. Yah, mungkin boncengan balita aman jenis ini tidak akan pernah terjangkau di kantong mereka.

Saya ingat pelajaran pertama Ibu saya tentang keselamatan jalan raya. Kami tinggal di pinggir jalan raya Jogja-Magelang, dengan lalu lintas yang padat. Ibu mengajari saya menyeberang jalan ketika saya mulai sekolah, sebelum saya hafal doa akan bepergian. Mungkin untuk ukuran sekarang, terlalu riskan mengajari anak usia empat tahun menyeberang jalan. Tapi maksud saya, Ibu saya yang cerdas itu mengutamakan pelajaran keselamatan jalan raya sejak dini.

Sekarang, ganti saya yang harus memaksa Big A untuk mengenakan helm. Menurutnya, helm itu 'ridiculous' dan 'not comfy'. Dia juga sempat mendebat, "We're not gonna fall." Kubilang, "We never know, Darling, we never know."

Sementara itu, Little A yang suka mengamati dan belajar hal-hal baru, dengan cepat 'belajar menyeberang jalan'. Saya bisa tersenyum mendengar suara nyaring Ayesha setelah mengamati jalan di depan dan belakang kami. "Kosong, Ma!"

Dan kami pun menyeberang masuk gang.

A.K.
Surabaya 2012

Comments

Vix alexa said…
Bener banget, safety harus nya harus di utamakan, celaka gak ada yang tau.

Nonton film HD

Popular Posts