Ke Dokter

Syukurlah acara pergi ke dokter di sini enggak pakai was-was akan diperlakukan buruk, atau malah berakhir di penjara.

Saya miris sekali membaca berita tentang Ibu Prita yang dipenjara gara-gara mengeluhkan buruknya layanan kesehatan yang diterimanya melalui surat elektronik pribadi. Saya tidak tahu apakah memang semua kejadian yang ditulis Ibu Prita benar, tapi tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Sangat mungkin keluhan dia benar mengingat kebiasaan kebanyakan orang Indonesia yang tidak protes kalau belum keterlaluan banget. Beda dengan orang sini yang sangat 'demanding'.

Dokter-dokter yang ditulis Ibu Prita mungkin merasa sudah memperlakukan dia dengan baik. Mungkin sudah sesuai standar prosedur seperti biasanya. Tapi seperti apa sih standar pelayanan dokter di Indonesia? Apa mereka sudah mendengarkan pasien dengan baik? Apa mereka menjawab dan menjelaskan pertanyaan pasien? Apa mereka bersedia menjelaskan kegunaan obat yang diberikan? Apa mereka bersedia memberikan resep obat generik? Saya beruntung menemukan beberapa dokter berhati mulia seperti ini, satu di Jogja dan satu di Surabaya. Selebihnya adalah cerita tentang dokter yang sambil lalu memeriksa pasien dan segera memberi resep macam-macam dengan harga yang mahal.

Di sini, pelayanan dokter lumayan bagus. Mereka tidak seramah orang Indonesia pada umumnya yang suka berbasa-basi, tapi mereka profesional. Mereka mendengarkan keluhan, menjawab dan menjelaskan. Mereka tidak memberi tindakan berlebihan untuk penyakit-penyakit kecil. Jarang ada dokter yang memberi antibiotik kalau pasien 'cuma' sakit flu. Kami punya waktu minimal 15 menit di ruang prakter dokter, bisa lebih apabila diperlukan. Mengapa? Karena dokter tidak menerima uang langsung dari pasien. Pemerintah menjamin seluruh layanan kesehatan penduduk dengan asuransi wajib (Medicare) yang dibayar lewat pajak. Layanan kesehatan dan obat tidak diperjual belikan seperti barang dagangan di pasar bebas.

Kami yang bukan penduduk sini memang wajib membayar biaya asuransi kesehatan, biayanya sekitar $380 per orang atau $760 untuk keluarga per tahun. Lumayan mahal kalau di kurs kan ke rupiah, tapi dengan harga segitu, seluruh perawatan kesehatan (kecuali mata dan gigi) ditanggung, rawat jalan maupun rawat inap, bahkan termasuk biaya persalinan.

Di Indonesia, biaya layanan kesehatan mahal, dan tidak ada jaminan pelayanan yang baik. Adakah calon presiden kita yang memikirkan desain layanan kesehatan dan regulasi perdagangan obat yang memihak rakyat?

Ah, sudahlah, segini dulu. Ini Ayesha masih rewel habis disuntik imunisasi. Semoga Anda yang membaca tulisan ini selalu sehat dan tidak pernah berurusan dengan dokter atau rumah sakit yang buruk.

A.K.
Oh, ya, tentu saja saya turut mendukung Ibu Prita di facebook.


Comments

Dina Mama 2F said…
beruntung deh mbak Ade pny kesempatan merasakan baiknya pelayanan kesehatan, disini dokter dikit2 ngasih antibiotik,.....capek deh, kalo tanya sm dokternya dikira sok tahu...
asik ya... dulu saya ga pernah kepikiran pengen sakit, perasaan sehat aja, gaya hidup juga lumayan sehat...eh..ternyata dikasih sakit juga, lumayan tabungan terkuras...mg pelayanan kesehatan di Indonesia jd lebih baik kelak
sari neh said…
tadi sempet ikutin berita buk prita. seneng liatnya udah bisa kumpul lg ama kluarga. smoga rumah2 sakit di indonesia lebih meningkatkan layanan kepada masyarakat dan lebih legowo dalam menerima kritik dan saran yang ada.
irma ^_^ said…
wah..kapan yah indonesia seperti itu...
aku juga mendukung bu prita di facebook!!
^Risti me said…
feeling saya bilang, kalo bntr lg brita bu prita akan sgr di alihkan. secara menkes kita juga seorang dokter, yg jelas2 byk memihak bu prita sambil "menyudutkan" profesi orang kesehatan no. 1 saat ini.
ade kumalasari said…
aneh ya, kita tanya kan karena nggak tahu, eh, malah dibilang sok tahu.
ade kumalasari said…
sedia asuransi sebelum sakit. sayangnya kebanyakan asuransi di Indo hanya untuk rawat inap aja.
ade kumalasari said…
iya, peristiwa ini harusnya bikin perusahaan lebih hati2 dan lebih baik dalam melayani konsumen
ade kumalasari said…
jangan berhenti berharap...
ade kumalasari said…
baca berita di kompas hari ini ttg komentar Bu MenKes, bikin sakit hati. Katanya dokter tidak bisa dihukum meskipun mereka tidak mau memberikan keterangan ttg fungsi obat yang diberikan. What the? Tugas dokter apaan dong?
ya, mbak.. wajar saja orang Indonesia banyak yang tidak mau berobat di negerinya sendiri.
ade kumalasari said…
iya, sayang sekali. sebenarnya negeri kita banyak potensi loh, cuman gak dikelola dengan benar.
hiii, emang edaaaan tuh kasusnya ibu prita...

Popular Posts