Lakemba

Lakemba adalah nama suburb di mana saya tinggal sekarang. Suburb itu apa ya? Semacam wilayah sebesar Kelurahan gitu lah. Letaknya sekitar 15 km sebelah barat daya pusat kota Sydney. Untuk menuju pusat kota, bisa naik kereta dalam waktu 30 menit.

Tata kota di Sydney cukup bagus. Tiap suburb memiliki fasilitas umum dan pertokoan sendiri. Biasanya pusat pertokoan ada di dekat stasiun kereta, berdekatan dengan perpustakaan, kantor pos, bank, dan layanan kesehatan.

Separuh penduduk Lakemba adalah imigran, yaitu orang-orang yang lahir di luar Australia. Imigran terbesar adalah dari Bangladesh, kemudian berturut-turut Lebanon, China, Vietnam, Pakistan, Yunani, India dan Indonesia. Jadi bisa dibayangkan seperti apa kalau saya jalan-jalan di downtown. Lebih banyak bertemu orang-orang Bangladesh daripada Bule, hehehe.

Tinggal di Lakemba banyak enaknya juga. Karena sebagian besar penduduk di sini muslim, maka gampang sekali menemukan toko makanan dan restoran halal. Bahkan mungkin hampir semua toko menjual makanan halal, kecuali toko rokok dan minuman keras (to me, smoking with any substances is haram). Di sini juga ada toko yang menjual bahan makanan dari Indonesia. Jadi gampang sekali menemukan tempe Indonesia (percaya nggak? bungkusnya warna merah putih), segala merk mi instan, kerupuk, bermacam-macam sambal, bumbu-bumbu masakan instan, kacang garuda, teh botol, teh kotak, sampai pepsodent, kuku bima, dan balsem. Pelanggan toko ini tentu saja orang-orang Indonesia. Kami biasa berkenalan dan berkirim kabar ketika bertemu di toko ini, tentu saja pakai Bahasa Indonesia, lha ngapain? Duh, rasanya memang seperti di kampung sendiri.

Satu blok dari apartemen saya juga terdapat masjid yang merupakan salah satu masjid terbesar di Sydney. Nama resminya Masjid Ali ben Abi Taleb, tapi lebih terkenal dengan nama Masjid Lakemba atau Lakemba Mosque. Masjid ini dibangun dan dikelola oleh orang Lebanon. Tapi jangan salah, meskipun dekat, saya tidak pernah mendengar suara adzan dari masjid itu. Memang disini adzan dilarang dikumandangkan dengan pengeras suara, takut mengganggu penduduk sekitar yang bukan muslim. Kadang kangen juga sih sama suara adzan, apalagi kalau pas bulan puasa, menjelang magrib, hehehe...

Nggak enaknya tinggal di sini karena nggak ada supermarket besar yang dekat, seperti Woolworth atau Coles atau Aldi. Dulu ada sih IGA, tapi plasa tersebut terbakar tahun 2007 dan belum dibangun lagi sampai sekarang. Kalau speciality shop yang kecil-kecil memang banyak banget, seperti Toko Indonesia yang saya sebutkan tadi. Lainnya adalah toko Bangladesh (tentu saja), toko Arab, India, Pakistan, Lebanon, dll. Jadi lumayan repot kalau mau beli barang-barang 'umum' semacam susu, popok bayi, pantyline, shampo, sabun, tissue, minyak goreng, dll. Biasanya barang-barang ini lebih murah dibeli di supermarket besar. Biasanya kami akan belanja ke Campsie atau Bankstown, jaraknya masing-masing dua stasiun dari Lakemba.

Nggak enaknya lagi (yang ini menurut saya, menurut Nino sih nggak penting): nggak ada kios persewaan DVD umum semacam Ezy Video atau Blockbuster. Adanya ya itu tadi, toko-toko spesial yang juga menyewakan DVD film-film India atau Arab. Nino menyarankan kami berpindah orientasi saja, mengganti film-film Hollywood menjadi Bollywood. Ugh, nehi... nehi...

A.K.

Comments

^Risti me said…
lakemba brasal dari kata apa mbak? apa disitu ada danaunya?
^Risti me said…
lakemba brasal dari kata apa mbak? apa disitu ada danaunya?
ade kumalasari said…
Lakemba asal katanya "Lakeba", dibaca Lakemba juga, berasal dari nama pulau di Kepulauan Fiji. Setahuku nggak ada danau nya sama sekali. Begitulah yang saya baca di wikipedia ini, hehehe...
http://en.wikipedia.org/wiki/Lakemba,_New_South_Wales
ervin sunardy said…
wah distrik dengan multibahasa.. asik tuh mbak
hollywood to bollywood? wakakakk
semangat
ade kumalasari said…
acha.. acha... *sambil geleng-geleng kepala*
Sylvia Tomasu said…
hahaha, tapi enaknya lebih banyak dari nggak enaknya yah mbak... apalagi ada toko Indonesia dan banyak orang Indonesianya... serasa di kampung halaman,
ade kumalasari said…
iya, kayak di kampung nih. itu ibu2 sudah ngajakin arisan, hehehe...
Fakhri Zakaria said…
bapak-bapaknya maen gaple di pos ronda gak mbak ?
ade kumalasari said…
wah, baru ingat aku, di sini yang kurang adalah fasilitas pos ronda, hehehe
Silagra Brand said…
Very much it was pleasant! Thanks!
Silagra Brand said…
Very much it was pleasant! Thanks!

Popular Posts