Hampden Park Public School

Anindya (7 tahun) masuk sekolah lagi minggu ini, dimulai hari Senin yang lalu. Menurut aturan DET (Department of Education and Training) New South Wales, kami harus mendaftar di sekolah yang paling dekat dengan tempat tinggal. Ini kalau mau sekolah gratis di sekolah negeri loh. Kalau mau sekolah di swasta, silahkan pilih sekolahnya, jauh juga boleh, asal kuat bayarnya.

Mengurus surat-surat untuk sekolah dasar di sini tidak terlalu sulit. Pertama, anak usia sekolah (5 - 15 tahun) harus mendapat surat konfirmasi pendaftaran dari DET. Komunikasi dengan DET bisa dilakukan via email (iyalah, hari gini...). Formulir pendaftaran juga bisa diunduh dari website DET. Surat konfirmasi pendaftaran ini adalah salah satu syarat untuk mendapatkan visa. Dulu kami mengurus surat ini ketika masih berada di Indonesia. Persyaratan lainnya adalah sudah membayar uang sekolah sebesar AUD 4500 untuk satu tahun. Ini untuk siswa internasional yang umum. Anindya bisa gratis karena Ayahnya adalah pemegang beasiswa dari Universitas Pemerintah. Begitu juga kalau orang tuanya adalah pemegang beasiswa AUSAID, sekolah anak bisa gratis. Untuk warga negara dan penduduk tetap di sini tentu saja gratis tis. Ah, jadi membayangkan, kapan sekolah di Indonesia bisa gratis tis tanpa tambahan ini itu.

Nah, setelah anaknya tiba di Sydney, dan sudah tahu mau sekolah di mana, kami harus mengirim kembali surat konfirmasi pendaftaran yang sudah di cap oleh sekolah ke DET, kali ini via pos. Kemudian DET mengirim surat authority to enrol kepada orang tua dan pihak sekolah. Baru surat itu bisa dijadikan jaminan masuk sekolah. Kami mendapat surat tersebut hari Kamis minggu lalu, sehari setelah saya dan Anindya mendarat di Sydney. Hari Seninnya kami langsung mengurus di kantor sekolah, dan langsung bisa masuk hari itu juga.

Hampden Park Public School, sekolah Anindya sekarang merupakan sekolah multi etnis yang besar. Tiap tingkatan mempunyai 3-5 kelas paralel. Jarak sekolah ke apartemen tidak terlalu jauh, hanya 7 menit berjalan kaki. Anindya langsung masuk kelas 2, sesuai usianya. Tahun ajaran baru di NSW dimulai Januari, beda dengan Indonesia yang mulai Juli. Satu tahun dibagi menjadi 4 term. Term pertama akan selesai minggu depan. Setelah itu libur panjang sekitar dua minggu. Jadi Anindya hanya sempat sekolah dua minggu, kemudian libur lagi. Di sini memang banyak liburnya. Tiap akhir term, libur dua minggu. Tiap akhir tahun ajaran, bisa libur lebih dari satu bulan, biasanya menjelang natal 22 Desember sampai akhir Januari.

Selain banyak liburnya, kurikulum di NSW juga mudah, gampang diikuti. Intinya, di sekolah dasar, anak-anak belajar Math, English, Science, Art dan Sport. Untuk membantu memperlancar kemampuan bahasa Inggrisnya, Anindya mengikuti kelas ESL (English as Second Language), setiap hari di sekolah.

Ada beberapa anak Indonesia yang bersekolah di sini. Lucunya, ketika kami mendaftar, kami sempat meminta Anindya dimasukkan ke kelas yang ada anak Indo-nya, biar dia gampang berteman, eh, officer nya malah bilang, "Well, the teacher can speak Bahasa. How's that?"  Ternyata guru kelas Anindya adalah perempuan muda keturunan Indonesia. Namanya Miss Sarah Sungkar. Tapi Bahasa Indonesianya aneh dan kaku. Wajar aja karena dia lahir dan besar di sini.

Wah, jauh-jauh ke Sydney dapat guru keturunan Indonesia juga, hehehe...

A.K.

Comments

Heuheuheu...lama ngga baca-baca blogmu, Mbak. Terjawab sudah kepenasaranku akan sekolah Didi yang kutanyain tadi pagi :D Keep writing ya, Mbak. Ku kan jadi pembaca setia blogmu dah.
ervin sunardy said…
ceritanya bolak balik ngirim surat ya...
heheh
Dini Rachmawati said…
Selamat ya buat Anindya yang udah sekolah.. Btw, bahasa Indonesia diinggriskan jadi Bahasa aja ya.. kok aneh :)
ade kumalasari said…
thank you, Sang. you made my day :-)
ade kumalasari said…
iya nih, surat-suratan sama depdiknas
ade kumalasari said…
Thanks dini. Di sini memang biasa orang bilang I can speak Bahasa atau kadang bilang I know Bahasa, sedikit-sedikit. They think Bahasa = Indonesian language.
ervin sunardy said…
many people said like that. bahasa = indonesian language
hehe
secara bahasa = language
ade kumalasari said…
sudah telanjur salah kaprah, susah dibenerin lagi.
ikhwan mahfud said…
hai, mala. baca tulisan2mu, sepertinya menyenangkan hidup aussie. nyusul ah, kapan2, hehehe....
ade kumalasari said…
ayo, nyusul aja. ntar ketemu di depan opera house ya... deket angkringan orang jual es, hehehe...
Sylvia Tomasu said…
Cerita cerita mu sangat menarik deh mbak... aku juga pembaca setiamu..:))
ade kumalasari said…
makasih ya... aku juga nengok blog-mu ah...
Fakhri Zakaria said…
lho sekarang sudah gratis lho mbak, cuma perlu mbayar uang gedung, uang seragam, uang buku, uang perpisahan, dan uang-uang lainnya...

Popular Posts