Posts

Showing posts from March, 2009

No Surprise

Image
Kembali ke Australia rasanya kok kayak pulang kampung aja. No surprise, no more excitement. Semua masih seperti enam bulan yang lalu ketika kami kembali ke Indonesia.

Mulai menginjakkan kaki di bandara, saya sudah tahu mau menuju kemana. Melewati petugas imigrasi, saya juga kalem-kalem aja, bahkan saya kepedean menyapa mereka duluan. Bandingkan dengan waktu pertama kali saya ke Australia, deg-deg-an terus bawaannya. Takut enggak ngerti mereka ngomong apa. Padahal toefl saya lumayan loh... cuma tingkat percaya diri saya saja yang rendah. Maklum, saya ini memang soliter di dunia nyata.

Nino was as handsome as ever. We hugged and kissed and went home by taxi.

Tempat tinggal kami juga seperti yang saya bayangkan. Harga barang-barang di sini juga belum naik (ugh, jangan sampai). Susu cair satu liter masih $1.09, sayap ayam mentah satu kilo masih $2.60, tempe satu kotak juga masih $2.50, teh kotak 200 mL $1.10.

Sydney Opera House dan Sydney Harbour Bridge juga masih semegah sebelumnya. Tapi, …

Holland Place

Image
Sekarang ini saya tinggal di Holland Place. Mendengar sepintas namanya, memang yang terbayang adalah Melrose Place, apartemen mewah seperti judul serial TV yang populer tahun 1990-an tersebut. Sayangnya, tempat ini tidak sekeren namanya. Tempat ini bukan apartemen mewah dan saya tidak bertetangga dengan bule-bule cakep.

Tapi, jangan menyangka saya tinggal di rusunawa lho. Standar apartemen biasa kelas orang-orang imigran di sini sudah cukup bagus lah untuk ukuran orang Indonesia yang hidup sederhana (ehm!) seperti saya. Kami menyewa apartemen dengan dua kamar tidur. Biaya sewa seminggu adalah $250. Hayo, hitung dalam rupiah dengan kurs 1 AUD = Rp 7800! Itu sudah termasuk murah untuk ukuran sewa apartemen di daerah sekitar Sydney. Memang harga sewa di Sydney paling mahal dibandingkan kota-kota lainnya di Australia. Semakin lama harga sewa semakin mahal, sampai akhirnya orang-orang harus 'menyingkir' ke daerah yang lebih jauh lagi dari pusat kota. Seperti kami yang sekarang terpa…

Sydney Airport

Satu hal yang saya rindukan dari negara maju adalah fasilitas umumnya yang rapi, bersih, gratis dan tersedia di mana-mana. Seperti ketika kami mendarat di Sydney Airport, begitu keluar dari lorong Garuda, ada petugas setempat yang langsung menawarkan pram untuk membawa Ayesha. "Mam, if you need pram for your baby, you can get it at blah blah blah..." Saya cuma bilang terimakasih banyak. Saat itu saya menggendong Ayesha memakai gendongan koala alias bayi ada di depan. Menurut saya gendongan seperti ini yang paling nyaman untuk bepergian karena kedua tangan kita bebas untuk melakukan aktivitas lainnya, seperti menggandeng Kakak Anindya di tangan kanan dan membawa sesuatu di tangan kiri. Rasanya saya juga tidak butuh pram atau kereta dorong bayi karena nantinya masih harus mendorong trolley berisi tiga koper besar.

Di airport, saya memutuskan untuk istirahat dulu di ruang perawatan bayi alias parents room. Di ruang ini tersedia ruang privat (ditutup korden maksudnya) untuk menyu…

Naik Garuda

Image
Entah kenapa Anindya (7 tahun) ngotot meminta kami naik Garuda untuk terbang ke Sydney. Tentu saja bukan karena nasionalisme. Kalau saya sih punya paham 'ngiritisme' alias naik apa saja asal murah (untuk penerbangan luar negeri-nya loh. untuk dalam negeri saya kok ngeri kalau naik yang murah-murah, takut 'terpeleset'). Selidik punya selidik, ternyata Anindya ingin punya mainan dari Garuda. Dulu, enam bulan lalu, ketika kami terbang dari Sydney, mainan Anindya tertinggal di pesawat, dan dia sedih sekali. Untungnya tiket Garuda tidak terlalu mahal. Coba kalau Anindya ngotot naik Singapore Airlines, bisa bangkrut saya.

Tiket Jogja - Denpasar - Sydney sekali jalan untuk dewasa US$ 369, anak US$ 295 dan bayi US$ 229. Total US$ 893. Dengan kurs 1 US$ = Rp 12.170, harga segitu memaksa saya menguras tabungan. Bandingkan dengan harga tiket sekali jalan Nino yang naik Jetstar dari Denpasar ke Sydney, dengan 'bonus' mampir di Darwin, sebesar US$ 286, atau tiket ortu kami y…

Separuh Nafas

Seminggu ini saya senewen tiap kali menjumpai papan reklame THREE di pinggir jalan. Ya,saya kangen sama yang di Australia. Seperti orang kelaparan merindukan roti, seperti orang Eskimo merindukan musim panas. Ya,anak-anak saya juga rindu Daddy-nya. Kakak dan Adik sakit di hari pertama ditinggal pergi. Sekarang Kakak masih mellow dan sering terisak tiba-tiba. Adik yang baru delapan bulan jadi sering melamun dengan tatapan kosong. Obatnya cuma satu: segera menyusul ke negeri Kanguru itu.

AK.