Becek Nggak Ada Ojek

Anindya mogok bicara.
Beda dengan saya yang lega karena bisa ngomong tanpa mikir, anak saya malah bingung. Anindya juga langsung ngambek dan masuk kamar kalau kami tertawa-tawa ketika ngobrol menggunakan bahasa Indonesia bercampur Jawa. Dia merasa diabaikan karena tidak mengerti sama sekali apa yang kami bicarakan.

Namun pelan-pelan, seiring dengan kosakata yang dia ambil dari sekolah, dia mulai berbahasa Indonesia sedikit-sedikit. Bahasanya masih campur-campur dengan aksen yang aneh, persis Cinta (dibaca: Cinca) Laura. Kami terpaksa menahan senyum kalau mendengar kata-kata ajaibnya.

Sekarang Anindya sudah menggunakan bahasa Indonesia secara penuh. Jarang dia berbahasa Inggris kecuali pada Ayahnya. Agar kemampuan bahasa Inggrisnya tidak hilang, Ayahnya membacakan cerita dari buku-buku Enid Blyton sebelum tidur. Kami juga menyemangatinya untuk membaca sendiri buku-buku nya yang berbahasa Inggris.

Seminggu belakangan ini Anindya rajin menulis buku harian dalam bahasa Indonesia. Dia mulai dari satu kalimat per hari. Kemarin dia sudah berhasil menulis tujuh kalimat. Wah, kalau dia rajin begini, tahun depan dia bisa menulis 372 kalimat sehari.

A.K.

Comments

eka ningsih said…
hwa, anindya sekolah dimana mbak sekarang?
met berbahasa Indonesia ya dek :D
ade kumalasari said…
di SD Alam Insan Mulia, dia sendiri yang milih, katanya pengen sekolah yang gak ada PR nya, hehehe
Imazahra Chairi said…
Subhanallah, Anindya cantik bener, Mba Ade, huhuhu... gak kerasa ya :-p

O iya, kalo sehari bisa nulis 372 kalimat, itu namanya jadi cerpen or mini novel. Bener2 buah jatuh gak jauh dari pohonnya :-p
Yori Herwangi said…
calon penulis juga nih didi...skrg rambutnya panjang ya...tambah cantik..
Fakhri Zakaria said…
coba dulu ada sekolah kayak gini, saya pasti bakal minta buat dimasukin kesitu...ada gak ya universitas yang bisa lulus tanpa skripsi dan sejwatnya...hik..hik..hik

Popular Posts