Cerpen IBU DEWI - bagian satu

Ini adalah cerpenku yang dimuat di In-Flight Magazine-nya LION AIR.


 


This story is dedicated to EH.


Enjoy reading!


 


Mendengar namanya saja saya sudah muak dan ingin muntah. Sebenarnya, Dewi adalah  nama yang bagus. Artinya kira-kira bidadari, dewa perempuan, ratu, atau puteri. Yang pasti, Dewi adalah nama untuk ‘perempuan baik-baik’.


Saya membencinya bukan karena dia perempuan yang menyebalkan. Sama sekali bukan. Seperti namanya, Ibu Dewi adalah perempuan baik-baik, cantik, pintar dan sukses. Dia seorang pengacara terkenal. Saking terkenalnya, wajahnya kini mulai muncul di siaran infotaintment. Menyebut nama Ibu Dewi, orang akan segera ingat Ibu Dewi sang pengacara, seperti orang mengingat Ibu Dibyo si ratu tiket atau Ibu Gito si juragan PRT.


Ibu Dewi bukan tipe perempuan yang pantas untuk dibenci. Pembawaannya ramah, selalu tersenyum dan penuh perhatian kepada setiap orang. Tapi dia juga bisa galak kepada lawan-lawannya untuk urusan persidangan.


Baiklah, saya beritahu mengapa saya membencinya.


Ibu Dewi adalah istri Arman, lelaki yang sangat saya cintai. Arman, suami Ibu Dewi, adalah kekasih saya.


Tadinya saya tidak tahu kalau Arman sudah menikah. Kami berkenalan setahun yang lalu, lewat Haryo, teman saya. Arman masih muda, tidak mengenakan cincin dan tidak pernah mengisyaratkan kalau dia sudah menikah. Setelah akhirnya tahu kalau Arman sudah beristri, saya sempat kecewa. Saya layangkan protes pada Haryo, “Ngapain loe kenalin ke gue kalok ternyata dia udah punya bini?” Tapi Haryo menjawab santai, “Well, maybe he is not single, but he is still available, Dear! Ha-ha-ha!”


Haryo sialan! Sama sekali tidak lucu, karena saya sudah telanjur jatuh cinta.


Mulanya kami hanya mengobrol di kafe, melepas penat seusai kerja. Setelah ngobrol basa-basi tentang keadaan kantor, cuaca yang akhir-akhir ini semakin menakutkan, sampai tentang nasi goreng di pinggir jalan yang enak, kami akhirnya menemukan satu kesamaan: sama-sama suka mencela penampilan orang!


Sebagai seorang fashion editor, saya memang terbiasa mengritik penampilan orang, bahkan cenderung menghakimi. Di mata saya, jarang sekali ada orang yang benar-benar tahu apa yang mesti ia kenakan. Lebih banyak yang salah kostum. Ternyata Arman juga mengerti soal mode, termasuk mode di dunia pria. Hobi aneh dan tercela ini menyatukan kami. Arman dan saya betah ngobrol berjam-jam untuk membahas artis-artis yang ‘bodoh’ dalam urusan mode.


Sampai akhirnya di suatu sore di sebuah kafe, saya melontarkan pertanyaan, “Sebenarnya cewek kayak apa sih yang kamu suka?” Saya kaget sendiri. Ngapain nanyak kayak gitu, ntar dikira mancing loh, hardik suara hati saya. Tapi Arman tidak kaget. Dia menjwab dengan mantap, sorot matanya menghunjam ke mata saya. “Aku suka perempuan yang ada di depanku sekarang ini.”


Aarrgghh, mungkin saat itu juga, panah cupid dilesatkan ke dada saya.


Saya tahu kenyataan bahwa Arman adalah suami Ibu Dewi dari sebuah tabloid wanita yang kebetulan saya baca. Di situ ada berita kecil: “Meski sibuk, Ibu Dewi tetap memasak untuk suami tercinta.” Berita yang sangat tidak penting dan hampir saya lewatkan, sebelum saya melihat foto Arman dan Ibu Dewi dengan pose pasangan yang bahagia.


“Loh, ini kan Arman!” pekik saya waktu itu. “Ini Arman gue,” desis saya dengan lemah.


Seharusnya saya tahu kalau Arman adalah buaya yang sedang menyamar menjadi pengamat mode. Setiap buaya bisa dikenali dari sorot matanya dan rayuan gombalnya. Tapi mau bagaimana lagi? Saya telanjur jatuh cinta!


Saya tidak pernah bercita-cita menjadi penggoda suami orang. Saya pernah berusaha untuk melupakan Arman, kasihan istrinya. Tapi Arman sama sekali tidak berusaha melupakan saya, kasihan saya. Mau bagaimana lagi? Kami sama-sama jatuh cinta!


***


bersambung...

Comments

Popular Posts