Cerpen IBU DEWI - bagian dua

Dulu, Arman dan saya bisa telponan berjam-jam tanpa gangguan. Namun akhir-akhir ini, nama Ibu Dewi selalu muncul di tengah perbincangan kami. “Tutup dulu ya, Sayang, telfonnya. Ibu Dewi nelpon nih,” begitu katanya. Saya cemberut. “Tutup ya Sayang, ntar kutelpon lagi deh,” bujuknya, seolah tahu kalau saya cemberut. Kejadian ini berulang terus, setiap kali saya menelponnya. Jangan-jangan Ibu Dewi tahu kalau suaminya sedang ditelpon saya?


Dulu, Arman dan saya bisa sms-an berjam-jam. Dulu, sms saya selalu dibalas dengan cepat. Namun akhir-akhir ini, nama Ibu Dewi selalu muncul di layar hape saya. “Psst, udah dulu ya, Sayang. Ada Ibu Dewi,” begitu balasan sms-nya tiba-tiba. Hah? Bukannya Ibu Dewi sedang sibuk mengurusi perceraian seorang seleb? Kok tiba-tiba dia jadi ada di rumah terus ya?


Ibu Dewi, Ibu Dewi. Kadang saya jadi memikirkannya, lebih sering daripada saya memikirkan Arman. Saya sering berkhayal, suatu saat kami akan berkenalan. Apa yang akan saya katakan nanti, kalau kami berjumpa? “Apa kabar Ibu Dewi? Kenalkan, saya Lola, pacar suami Anda.”


Sinting! Saya jadi terobsesi dengan Ibu Dewi. Kadang saya terperanjat kalau mendengar seseorang meneriakkan nama Dewi. Ah, saya pikir Ibu Dewi ‘yang itu’. Saya jadi berdebar-debar setiap nonton infotaintment: jangan-jangan Ibu Dewi muncul bersama seleb yang didampinginya, entah urusan mau cerai atau urusan gontok-gontokan.


Hey, kenapa juga saya ikut-ikutan memanggilnya Ibu Dewi? Ini pasti gara-gara embel-embel ‘Ibu’ sudah melekat pada dirinya, sudah jadi trade mark-nya. Semua orang memanggilnya seperti itu, termasuk Arman. Aneh juga, memanggil istri dengan sebutan ‘Ibu’. Apa tidak lebih baik dia memanggil ‘Dewi Honey’, ‘Dewi Darling’ atau semacam itu. Tapi, ah, nanti saya malah tambah cemburu.


Mestinya saya tidak ikut-ikutan memanggilnya Ibu Dewi. Mungkin lebih baik saya memanggilnya: Dewi Jelek atau Dewi Nenek Sihir. Itu lebih cocok sebagai panggilan terhadap orang yang saya benci. Atau mungkin: Dewi Hantu. Ya, Ibu Dewi memang sudah menjadi ‘hantu’ dalam hidup saya.


***


 


Malam ini, saya ingin melupakan Arman, dan juga Ibu Dewi. Saya mengiyakan ajakan Haryo untuk berpesta di sebuah klub. Pesta meriah itu sangat menghibur saya. Haryo menantang saya untuk lomba minum. Satu jam kemudian, kami sudah mabuk berat.


Saya tidak ingat bagaimana akhirnya saya bisa tiba di kantor polisi. Saya dan beberapa teman yang belum sepenuhnya sadar, duduk di bangku panjang. Saya tidak melihat Haryo. Ah, mungkin melihatnya pun tidak ada gunanya. Saya hanya bisa menduga-duga, mengapa kami sampai diangkut ke sini. Jangan-jangan, teman-teman saya pakai narkoba. Duh!


Saya segera menelfon Vina, kakak saya. Kami memang tidak terlalu akrab. Tapi untuk saat genting begini, dia satu-satunya yang bisa diandalkan. Selesai melolong meminta bantuan pada Vina, saya kembali ambruk.


Seseorang mengguncang-guncang tubuh saya. Susah payah saya membuka mata. Ada Vina. “Lola, gue bawa pengacara untuk loe. Ayo, gue kenalin.” Kakak saya yang irit bicara itu menyeret saya ke ruangan sebelah. “Dia temen gue, dia akan keluarin loe dari sini. Dia pengacara handal, turuti saja apa katanya,” bisik Vina.


Mata saya yang berkabut melihat sesosok perempuan anggun duduk di kursi. Perempuan itu bangkit, tersenyum menawan, dan mengulurkan tangannya.


Otak saya-yang sering mencela orang-bagai tersengat listrik.


Oh, my God, perempuan itu… Ibu Dewi!!!


 


A.K. 21/02/06

Comments

hehehehe....nice story :P
jadi, si lola dan si armannya gmn??

eh, maafkeun saya, gag pake permisi tapi langsung baca dan kasih komentar :P.....
salam kenal..... :)
Derry Miranti said…
wah seru juga .... plis dong ada ibu dewi - bagian tiga (hehehe nambah... :p)
mba mala, postingannya bagian 2 duluan ya? eniwei nice story hehehe...
ade kumalasari said…
iya, bagian dua dulu, biar enak dibacanya. thanks. aku selalu minder loh sama cerpen2ku. belum bagus. nulis cerpen lebih susah drpd nulis novel.

Popular Posts