Kana di Negeri Kiwi

Rating:★★★★
Category:Books
Genre: Teens
Author:Rosemary Kesauly
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2005

Membaca bab pertama novel ini aku langsung syok berat. Serius nih, yang nulis orang Indonesia? Terus aku baca lagi Tentang Pengarang. Oh, emang bener, Rosemary itu Indonesia asli, lulusan Sanata Darma Jogja. Bukannya aku ngeremehin penulis Indonesia loh. Cuman, sebelum baca novel Mary ini, aku belum pernah nemuin teenlit Indonesia sedahsyat ini. Pantesan aja novel ini jadi Juara 1 Lomba Teenlit Writer yang diadain GPU. Wah, kalok juara satunya kayak gini, aku jadi ‘lega’.

Sumpah, bab pembuka yang ditulis Mary keren banget. Cerita dalam bab pertama ini memang ‘tidak penting’ dan bukan awal dari cerita keseluruhan, namun dengan membacanya, orang akan langsung terjerat untuk masuk dalam novel. Bikin penasaran banget. Pembukaannya semacam teaser dalam film-film gitu deh. [teaser = cuplikan adegan seru yang sebenarnya enggak masuk dalam cerita utama, dijadikan pembuka film agar penonton penasaran mengikuti keseluruhan cerita]. Dari bab pertama ini kita akan tahu kalau Mary akan bercerita tentang Kana (dari judulnya juga sebenarnya udah tahu :P) yang punya temen namanya Jyotika.

Kana tadinya sekolah di Jogja, tapi dia harus pindah ke negeri Kiwi (tahu kan di mana? Bukan Ostrali loh…) ikut Papanya yang baru aja dikenalnya setelah 15 tahun (seperti pernah baca… oh, iya, di Looking For Alibrandi). Kana terobsesi sama cowok Jogja bernama Rudy (tentu saja Kana ini cewek). Kana memulai hari-harinya di Negeri Kiwi and the story goes…

Kana punya beberapa masalah: berat badannya naik, obsesinya ke Rudy yang tak kunjung selesai, hubungannya dengan Papanya. Terus tiba-tiba saja Jyotika, sobatnya dari India gak bisa dihubungi lagi. Ternyata Jyotika punya masalah yang lebih besar daripada sekedar ‘aku tambah gemuk nih’. Di sini, Mary memasukkan masalah berat dalam dunia tokohnya: sex abuse. Bener deh kata seorang teman: “Mary itu emang penuh misi.” Bukannya masalah kayak gini enggak ada di sini, cuman memang belum ada yang berani mengangkatnya dalam cerita, mungkin karena bisa bikin novelnya jadi terlalu gelap.

Kalau pembaca berharap kisah romantis2an dalam novel ini, boleh jadi akan kecewa berat. Mary memang menulis kisah obsesi Kana pada Rudy dan kedekatan Kana sama Tsunehisa (ampun deh, namanya susah banget), cowok Jepang, tapi kisahnya enggak mendayu-dayu kayak film India. For the romance lover: DEALOVA lebih cocok! Endingnya juga menggantung, tapi cara nulisnya itu loh, bikin kita begging: “Mary, we want more! We want more!”

Gaya penulisan Mary mirip banget sama novel-novel teenlit terjemahan. Nggak berlebihan kalok kubilang novel ini udah sekelas Looking For Alibrandi. Tapi ini juga yang bikin Kana di Negeri Kiwi jadi kurang Indonesia. Tapi Mary membayarnya di novel keduanya: MAMIMOMA yang lebih Indonesia, dan tetep memukau. Kayaknya nggak ada yang protes deh kalau aku menobatkan Rosemary sebagai the best Indonesian teenlit writer!

A.K.

Comments

Setuju sama resensinya! ;-) Penggambaran ttg Auckland-nya juga pas banget. Waktu baca novel ini aku justru berpikir kalau penulisnya pernah sekolah disana.Data-nya nggak fiksi!
Mbak Ade, bikin chicklit lokasi OZ dung! ;-) Chicklit yaa,jangan teenlit...hehehe.

Popular Posts