Miss You But Hate You

Ini tentang curhat temenku (yang terus terang bikin aku kaget banget). Maybe we can extract the moral from this story.
Untuk privacy, aku gak perlu sebutin namanya kan?

"Hai, tumben OL"
"Maaaalllllll, aku mau curhat"


"Boleh, boleh. Apa sayang?"

"Aku jatuh cinta…"

"Hem…"

"Sama pria yang udah beristri"

WHAT? Tapi aku berusaha untuk tidak kelihatan terkejut.
"Terus?"

"Aku sekarang patah hati."

"Weits, bentar-bentar. Cerita dari awal dong Say. Masak langsung klimaks gini. Sejak kapan kamu?"

"Kami kenalan di FS. Dia yang pertama kirim msg dan nge-add aku. Trus kami imel2an dan ceting. Trus kami tukeran nomer hape. Trus dia nelpon aku. Lama-lama… you know laaahhh…."

"Kamu udah tahu sejak awal kan kalok dia udah merit?"

"Iya. Tadinya kan aku pikir gak ada salahnya kami berteman. But he is very very very very very charming, Mal. Orangnya cukup terkenal (belom terkenal banget seh). Beberapa kali muncul di tivi."

"Oh, ya? Pengacara ya? Kok kamu nggak masuk gosip infotaintment? hehehehe."

"(ikon marah)"

"Sorry, sorry. Boleh tau gak, siapa orangnya?"

"Penting ya buat kamu?"

"Hehehe, nggak juga sih. Yang paling penting adalah perasaan kamu sekarang. Masak sih kamu bisa patah hati?"

"Weekend kemaren aku sms dia gak dibalas2. Aku nelpon gak diangkat. Terus aku jalan ke Mal sendirian. Eh, malah ketemu dia sama istrinya. Huh."

"Whoa! Terus?"

"Istrinya nempel terus gitu. Trus dia malah ngenalin aku ke istrinya (of course as a friend!). Tampangnya itu loh Mal, seakan dia terlatih banget menghadapi situasi kayak gitu. Sama sekali gak kagok. Seolah-olah dia sudah melakukannya puluhan kali."

"Reaksi istrinya?"

"Senyum sopan. Tapi matanya seperti bilang ‘Teman? Teman dari Hongkong?’"

"Huahahaha (tertawa berguling2 ke lantai)"

"Aku payah ya Mal?"

"Enggak. Cuman seleramu kok sekarang ke bapak-bapak gitu?"
"Dia masih muda lagee. Baru 32 taon."

"Yah. Tapi kamu mestinya udah tahu donk resiko fall in love w married man. Termasuk tahu kalok wiken kemungkinan dia sama istrinya jalan2."

"Ya iyalah, aku ngerti.Tapi aku gak nyangka pertemuan pertama kami bakalan kayak gini."

"Hah? Pertemuan pertama? Kamu belom pernah ketemu ama dia?"

"Belom. I love him before I meet him."

"Halah! Kamu baca CITACINTA juga ya?"
"Bener Mal. Aku bingung banget sekarang."

"Oke. Sekarang maumu gimana? Lepasin dia atau terusin? Msg2 option kamu tahu resikonya kan?"

"Iya, aku pengennya udahan aja. Tapi susah banget, Mal. Aku telanjur jatuh cinta. Cinta banget!"

"Yah… serius gak kamu? Kalok iya, kubantuin."

"How?"

"Gini aja… (Actually, I’m not good at giving advice, but I do understand you). (1)Kamu sibukin diri dg kerjaan kamu atau kegiatan apa kek, ikut fitnes kek atau apa. 
(2)Kalok kamu gak tahan kangen dia, pengen sms, ceting ama nelpon, udah hubungi aku aja. Kita ngobrolin cowok2 seksi sejagad raya. 
(3) Mending kisahmu dijadiin cerpen aja deh. Ayoh, kubuatin. Mau ending yang kayak apa?"

"Wah, boljug tuh, Mal. Endingnya…. gini aja. Aku putusin dia kan… terus dia memohon2 aku buat balik. Begging on bended knee gitu, hihihi. Tapi, akunya udah dapat cowok seganteng Aston Kutcher."

"Huehehehe, girl’s dream. Sip bgt. Ntar kalok cerpennya dimuat, honornya kita bagi dua yak?"

"Iya, kita ngopi di Starbak."

"Whoa, di Malang gak ada."

"Ya jangan di MLG dunk. Kamu kesini dong…"

"Huehehe… mesti izin suami neh. Susah je!"

"Yo wes. Aku gtg dulu yah. Kerja lagee. Lega deh Mal udah blg ke kamu. Thanks yah. Ntar kusms. Bye dear."

"Bubye."
 

Whoa! Bener2 nggak nyangka. Temenku yang smart, super tangguh dan selalu berpikir logis itu sampai ‘terjerat’ rayuan pria beristri. Mungkin pada awalnya dia sangat ’sadar resiko’. Tapi, bicara soal cinta, mana ada yang bisa menafikan gejolak2 yang muncul. Nggak mungkin ada cinta tanpa cemburu, karena cinta itu PADA DASARNYA ingin memiliki.

So?
(1) Apa salah kalok mencintai pria beristri?
Nggak juga seh, menurutku. Tapi buat apa coba? Cinta kayak gini enggak punya masa depan. Nggak akan bisa kemana-mana kecuali just for fun. Tapi juga enggak fun2 banget kan? Malah, kurasa lebih banyak makan atinya, jeles ama istrinya, dll.



(2) Apa cinta harus memiliki?
Enggak harus juga. Kadang cinta telah cukup untuk cinta (Halah! ngomong apa ini?) Bisa sih cinta enggak harus memiliki, malah kadang kalok bener2 cinta, harus siap berkorban, asal yang dia cintai bahagia (cieh..). Tapi aku gak suka tipe cinta yang kayak gini. Aku tidak suka menderita dan enggak bisa menikmati kepedihan. Kalok cinta yang kukejar enggak menghasilkan happines, ya give up aja. Buat apa coba?


(3)Kalok aku jadi temenku tadi?
Kalok aku jadi dia, aku akan ngelakuin usulan2ku tadi. Mending cari pacar(gelap) lain yang seganteng Aston Kutcher (dan masih jomblo tentunya). Huehehehe.
I deserve to be happy. And so does she.

A.K.

Comments

Popular Posts