Posts

Showing posts from May, 2005

Cover Kinclong n' Njendul-Njendul Itu

Sabtu sore ini, aku lagi bete gara-gara lagi harinya. Bikin lemes karena buanyak banget ‘dapet’nya. (cewek pasti tahu donk!).


Jam tiga sore, Bapak memanggil, “Mala, ada paket tuh!”
Hah? Whuah, pasti novelnya dateng!
Yup, memang novelnya. Aku langsung berha-ha-hi-hi saking senengnya. 

Mama Rini ikut-ikutan heboh. “Mana, lihat, lihat!”
Dengan tergesa, aku merobek paket.
Tarrraaaa…..!!!
Sepuluh buku dengan kover kinclong dan njendul-njendul.
Hem, keren juga. Trus kubalik, hem, keren juga fotonya (ha ha ha, narsis!)
 Langsung deh, koar-koar. Sms Nino, sms Dila, telpon Dila, telpon Mama, ditelpon Nino, sms Nissa, telpon Nissa, keputus, sms lagi…
Kata Nissa (a friend in Jakarta), kemaren dia udah lihat novelku dibaca abg di Blok M.
Hah? udah ada yang beli? whua….

He he he… Nggak bisa berhenti ketawa saking senangnya.
ternyata kayak gini tho jadinya, kover kinclong yang bermasalah dan bikin aku senewen karena telat satu minggu.

Alhamdulillah.

A.K.

A Lesson From My Mom

Gak tahu kenapa, tiba-tiba inget mama.

Mama-ku tuh, a great person ever. Orang paling tangguh sedunia yang aku kenal. Mamaku lahir tahun 1955. Ayahnya meninggal ketika dia umur 5 tahun (jadi aku nggak pernah kenal ama kakek-ku). Dia hanya sekolah sampai kelas dua SD. Abis itu dia diasuh banyak orang dan berganti-ganti kerja kasar: mencuci piring di warung nasi, mengangkut pupuk di gunung, dll.
Menginjak remaja, Mama kerja menjadi pelayan di sebuah toko kain di Muntilan. Majikannya orang Cina yang baik hati. My smart Mum, di samping bekerja, juga berusaha ‘mencuri’ ilmu dagang dari sang majikan. Mama mengumpulkan dan menabung gajinya dalam bentuk perhiasan emas.

Di toko itu juga, Mama bertemu dengan Ayah, seorang penjahit. Setelah menikah, mereka memutuskan untuk mengontrak sepetak kios dan memulai usaha jahit sendiri (modalnya dari tabungan perhiasan Mama).
Karena nggak bisa jahit, Mama memutuskan untuk dagang (ya di kios jahit itu). Pertamanya Mama jualan barang-barang rumah tangga kayak…

Menunggu Hari Senin

Finally…

Senin ini (mulai 16/5/05), novelku udah bisa nangkring di toko buku. Selesai sudah penantian yang panjang. Terbayang sudah royalti di tangan (wuss, nggak ding! masih nunggu enam bulan lagi, hik, hik…)
Lega, sudah bisa ngebut novel kedua.

Berhasil,berhasil,hore…

A.K.

Yep, Punya Kantor Baru

Ternyata, kota Malang tidak bernasib semalang namanya. Ada oase di tengah kota di balik rimbunnya pohon-pohon palem di jalan ijen (beverly hills-nya malang ngono loh…).

Sebuah PERPUSTAKAAN.

Gedungnya gedhe, bukunya, yah, masih sedikit but it’s okey. ada ruangan buku anak-anak dengan lesehan yang cukup untuk mbacain cerita untuk Nindipong. pelayanannya bagus, petugasnya ramah-ramah. daftar anggota gampang, langsung jadi, gratis lagi.

Sayangnya, oh, sayangnya, diriku bukan warga Malang. hik hik hik, nggak boleh jadi anggota. but tetep boleh masuk baca2 n liat2 buku.
Akhirnya nemuin ‘kantor’ baru buat nulis. dijamin irit karena nggak harus ngeluarin duit. cuma 500 buat parkir. Yeah!

A.K.