Tuesday, August 30, 2016

Inspirasi Dapur Mungil Fungsional

Dapur ini ukuran 2x 2,25 m doang :p

Lihat foto-foto dapur bersliweran di medsos jadi pengen pamer dapur juga. Ya gimana lagi, hasrat pamer menyeruak, tapi nggak ada yang bisa dipamerkan. Maklum yah, emang saya jarang masak. Jadi kalau ditantang pamer dapur, ayo! Ini dapurku, mana dapurmu? :D

Meski cuma mungil, ukuran 2 meter x 2,25 meter, perjuangan mendapatkan dapur ini tidak gampang. Setelah kami pindah ke Surabaya, baru dua tahun kemudian rak-rak dapur ini jadi. Jadi selama dua tahun, acara ngedapur saya kayak dapur pengungsian, hahaha. Gak papa sih, alhamdulillah sudah punya dapur sendiri.


Dengan luasan yang nggak seberapa dan dana terbatas, saya harus pinter-pinter ngatur tata letaknya. Jadinya dapur ini cukup jadi dapur fungsional saja sesuai kebutuhan saya. Laci-laci dapur juga cuma saya buat untuk yang di bawah saja, sementara atasnya cukup dengan satu papan kayu, dipasang sekeliling dapur. Laci-laci untuk tempat piring dan gelas/mug kering, wadah plastik ala-ala tupperware, dan wadah kaca ala-ala pyrex. Lemari dapur yang di pojokan untuk menyimpan bahan makanan kering dan alat masak yang (lebih) jarang dipakai, seperti panci besar, loyang-loyang, alat bikin mie (?), dll.

Meski sederhana, saya cinta banget sama dapur ini karena sebagian isinya barang-barang kenangan dari Ostrali dulu, waktu dapurnya lebih mentereng, tapi masih ngontrak :p Apa aja sih isi dapur ini, peralatan masak dan pernik-perniknya? Yuk kita intip yah.

Sunday, June 05, 2016

KENANGAN RAMADAN DI NEGERI SEBERANG

Saya dan Big A, lebaran 2006, Dulwich Hill, NSW
Sering terjadi, saya bisa lebih menghargai sesuatu yang saya miliki atau alami setelah saya tidak memilikinya atau mengalaminya lagi. Seperti kenangan saya berpuasa di negeri yang penduduknya bukan mayoritas muslim. Kami sekeluarga sudah melewati lima ramadan di negeri Kanguru. Di tahun pertama, saya merasa nelangsa karena ramadan nggak ada gregetnya. Saya sampai bela-belain membuat kolak di hari pertama meski akhirnya hanya saya yang doyan :p Saya menangis di malam lebaran karena tidak mendengar takbir. Ini jadi lebaran nggak sih? Baru pagi harinya setelah melihat rombongan bapak ibu dengan batik kembar menuju tempat salat Ied, saya baru yakin kalau ini lebaran beneran. Di tempat salat yang digelar oleh komunitas masyarakat Indonesia di Sydney, hampir semua memakai mukena warna-warni, Indonesia banget :)


Saturday, June 04, 2016

"LHO MASIH KECIL KOK SUDAH KELAS 2?"

Little A with her boots :)
Itu komentar spontan orang-orang yang kaget melihat ukuran tubuh Little A yang mini, lebih kecil dari ukuran 'normal' teman sebayanya. Biasanya dilanjutkan dengan gumaman, "Kukira masih TK." Kalau mendengar yang seperti ini, saya nggak bisa menyembunyikan ekspresi takjub saya. Orang ini mikir nggak kalau ucapannya di depan anak saya langsung bisa menyakiti perasaannya. Little A sempat minder karena ukuran badannya yang kecil. Dia tambah sedih karena orang dewasa terang-terangan mengatakan kalau dia kecil. 

Ini salah satu reverse culture shock yang harus dia atasi, karena kebiasaan orang-orang di Sydney, apalagi yang belum kenal dekat, pasti hanya mengatakan hal-hal baik di depan anak. Misalnya memuji pilihan baju atau gaya rambutnya hari ini, atau bilang kalau wajahmu kelihatan cerah pagi ini. Little A pernah mengeluh kalau di sini orang jarang memuji, lebih sering mencela.

Saya katakan padanya untuk menerima kenyataan kalau berat dan tinggi badannya memang segitu. Tapi tidak perlu minder dan khawatir karena ukuran orang memang berbeda dan dia punya kelebihan lain. Selanjutnya kalau ada yang berkomentar kalau dia kecil, dia akan jawab sendiri, "tapi aku anak pintar lho." Biasanya si komentator bakalan salah tingkah dan malu sendiri.

Sekarang saya sudah siapkan jawaban kalau menerima komentar seperti itu. "Bu, yang Anda katakan pada anak saya itu... jahat!"

~ A.K.

Tuesday, May 24, 2016

HEMAT AIR

 
Pagi ini kami kedatangan petugas pemeriksa meteran air PDAM. Anak baru kayaknya. Yang menerima suamiku.
"Nggak normal ini, Pak," kata petugas.
Kami memang sangat hemat air. Tagihan per bulan rata-rata Rp 15.000. Sementara tetangga sebelah (aku pernah nguping) tagihannya sampai 5x lipat.

"Kami nggak pakai bak mandi, Mas. Mandinya pakai shower," suamiku menjelaskan. Males kan dituduh nyolong air.
"Masih nggak normal itu, Pak," gumam petugas sambil melihat rumah kami yang (terlihat) besar.

"Oh, ada sumur di belakang."
"Oh, kalau itu normal."


=====
Suamiku pinter deh. Mending bilang ada sumur di belakang (memang ada, cuma gak dipakai) daripada harus menjelaskan kalau kami jarang mandi, jarang mencuci baju, jarang menyiram tanaman, jarang memasak, hampir gak pernah mencuci mobil, minum pakai air galonan.

Sungguh tidak normal :p

~ A.K.

Tuesday, May 17, 2016

SELAMAT HARI BUKU


Ini buku-buku yang pernah saya tulis, baik sendirian maupun keroyokan. Satu buku lainnya tentang family backpacking di Australia sedang dalam proses produksi. Semoga koleksi ini segera disusul terbitnya buku Little A dan Big A. Yang artinya saya harus lebih produktif lagi menulis, karena anak-anak (saya) gak bakalan mau 'disuruh' nerbitin buku kalau Emaknya sendiri mandul sebagai penulis.

Ayo, jangan takut membaca dan kemudian menulis.


~ A.K.

Sunday, May 15, 2016

NGAPAIN SEKOLAH LAGI?


Iya juga ya, ngapain nambah-nambah perkara, keluar dari zona nyaman? Toh kebutuhan hidup sudah terpenuhi, hobi traveling juga bisa diwujudkan.

Lalu saya ingat tujuan saya dulu cari perkara dengan kuliah lagi di Universitas Terbuka. Selain ingin memperbaiki 'hal-hal yang tidak selesai' di kuliah saya terdahulu, saya juga ingin menjadi role model yang baik bagi anak-anak saya. Bahwa tidak ada kata terlambat dalam belajar (klise tapi bener adanya). Bahwa ada kesempatan kedua kalau kita mau mengambilnya. Bahwa tidak ada salahnya kamu mengikuti passion-mu.

Bahwa hidup kadang harus melewati jalan memutar. No worries, kita akan tetap sampai asal tidak berhenti melangkah.


~ A.K.

Sunday, April 10, 2016

WATER SAFETY


Saya baru saja membaca berita ada dua anak mati tenggelam di kolam renang salah satu hotel di Surabaya. Ibunya asyik main hape di tepi kolam.

Mak deg!

Tanpa perlu merundung si ibu yang pasti sangat menyesal, peristiwa ini hendaknya jadi peringatan untuk kita semua. Ini yang sebaiknya diperhatikan/dilakukan orang tua. Self reminder untuk saya juga.

1. Anak-anak adalah tanggung jawab kita, ada atau tidak ada penjaga kolam.
2. Anak yang belum bisa berenang sebaiknya di kolam kecil, maksimal air setinggi dada. Selalu awasi kalau kita tidak ikut nyemplung ke air. Foto-foto secukupnya, setelah itu simpan hape.
3. Minimal satu ortu, bapak atau ibu ikut nyemplung. Meski saya bisa berenang, saya hanya akan bawa Little A di kolam besar kalau saya bisa berdiri tegak, air maksimal seleher.
4. Usahakan belajar berenang, baik untuk anak maupun ortu. Ibu-ibu tidak perlu malu belajar berenang setelah dewasa. Sekarang juga sudah banyak kolam untuk perempuan dan baju renang untuk muslimah yang longgar dan tidak ketat. Menurut saya, keselamatan kita dan anak-anak kita di air lebih penting daripada segala alasan yang membuat kita enggan belajar berenang.

*Maaf baper. Setiap kali ada berita orang tenggelam, saya selalu ingat sahabat masa kecil saya yang tenggelam di kolam saat kami masih kelas 1SD.

~ A.K.

Sunday, April 03, 2016

MENULIS KREATIF ala LITTLE A (7thn)


Little A mulai mau menulis cerita lagi. Kali ini kisah Princess Aira dan Pegassus. Setiap kali dia memikirkan suatu kalimat, dia akan melafalkannya terlebih dahulu. Dia ulang berkali-kali sampai pas, baru dia akan menulis kalimat tersebut. Little A baru bisa memakai tanda titik, belum bisa menggunakan huruf besar, tanda koma, dan tanda petik, tapi dia bisa membacakan cerita dengan intonasi yang pas, sesuai yang dia inginkan ketika menuliskannya.

Setelah menulis satu paragraf, dia akan kembali membaca paragraf tersebut, baru mulai paragraf baru. Setelah dia capek, dia akan membaca seluruh isi cerita, berpikir sebentar membayangkan apa yang akan dia tulis besok, baru kemudian menutup diary. 

Dalam menulis cerita, Little A sangat terbantu dengan banyaknya buku yang dia baca. Ketika dia minta tolong kakaknya agar diajari menulis tanda petik, Big A menjawab, "Ya, nanti kita lihat contohnya di buku-buku."

~ A.K.

Friday, February 12, 2016

KONTEN POSITIF

Progress Big A (14 thn) kuliah di Stanford Online
Di TL saya banyak ortu yang nge-share berita-berita 'menyeramkan' mulai dari kejadian pelecehan seksual, mainan dari kondom bekas, grup sosmed LGBT anak, tayangan kekerasan di sinetron, sms pacaran yang menjurus ke seks bebas, buku tulis bergambar pornografi, sampai buku cerita bermuatan pornografi (padahal hoax). Postingan ini dibagikan, ditambahi dengan komentar ngeri dan takut, seolah-olah seluruh dunia bersatu ingin menghancurkan anak-anak kita.

Saya sadar, tahu dan waspada bahwa ada banyak sekali hal-hal negatif di sekitar kita, di dunia maya maupun nyata. Namun saya rasa kita sebagai orang tua jangan sampai diteror oleh rasa takut. Ketakutan yang berlebihan hanya akan membuat kita mengambil keputusan yang tidak masuk akal (berlebihan) dalam mengasuh anak. Tiap kali mendapat berita ngeri, saya cek apa beritanya benar? Kalau memang benar, apa yang perlu saya lakukan untuk melindungi anak-anak saya? Sudahkah saya memberi bekal pengetahuan dan pemahaman yang cukup untuk anak saya?

Misalnya ada kasus pelecehan seksual anak (fyi, predator seksual tidak peduli orientasi seksualnya apa, sama-sama berbahaya). Cek, apakah saya sudah memberikan pendidikan seks pada anak sesuai usianya? Cek, apakah anak saya mampu melindungi dirinya sendiri dan atau mencari bantuan kalau ada apa-apa dengannya? Cek, apakah anak saya berani melapor dan bercerita kalau ada kejadian tertentu, tanpa merasa takut disalahkan? 

Selain itu, saya fokus pada konten positif di internet, termasuk penggunaan sosial media. Saya tidak menutup mata ada banyak konten pornografi di internet, termasuk dalam game, iklan, dan video klip. Apakah saya harus menjauhkan anak dari internet? Apakah saya harus mendesak pemerintah untuk menyensor semua konten porno dan kekerasan di internet? Suatu hil yang mustahal, dan sia-sia belaka. Yang ada malah konten bagus ikut disensor.
Di internet, ada banyak sekali konten positif yang bisa membantu anak kita belajar dan berpikir kreatif. Saya mendampingi anak-anak untuk bisa self-sensor. Little A (7 tahun) sudah bisa search konten anak-anak sendiri di You Tube, seperti my little pony, dora, howdini (resep dan dekorasi kue), minecraft, dll. Sensor You Tube juga bisa dilakukan dengan berlangganan channel tertentu yang kontennya ramah anak-anak. Little A juga sudah mahir men-skip semua iklan. Game pilihannya di iPad atas persetujuan saya. Lebih baik saya beli game yang bagus beberapa dolar daripada ada iklan-iklan nggak jelas di game mereka. Game yang bagus untuk anak-anak, saya merekomendasikan TOCA BOCA. 

Main game dan nonton You Tube kami perbolehkan di akhir pekan saja. Untuk hari kerja, internet hanya boleh digunakan untuk belajar, musik dan olahraga. Sejak minggu lalu, Little A mulai asyik belajar coding di code.org (ada pilihan bahasa Indonesianya, untuk anak usia mulai 6 tahun). Aktivitas ini bagus untuk melatih logika dan bisa jadi obat rindu main game :D
Untuk Big A, lebih banyak lagi konten asyik yang bisa dipilih. Saya daftar beberapa di antaranya.

http://www.inibudi.org/ https://www.khanacademy.org/ https://code.org/ https://www.youtube.com/user/crashcourse https://www.youtube.com/user/crashcoursekids https://www.youtube.com/user/1veritasium https://www.coursera.org/ https://www.edx.org/ http://lagunita.stanford.edu/ https://www.duolingo.com/

Sekarang ini Big A sudah masuk minggu kedua kuliah online Computer Science 101 di Stanford Uni. Perkembangannya cukup bagus. Dia enjoy belajar dan hasil ujiannya yang baik meningkatkan rasa percaya dirinya.

Bagaimana melawan konten buruk di internet? Jawabannya dengan fokus ke konten yang positif. Bagaimana dengan konten buruk di tayangan TV? Gampang, ambil remote dan matikan. Ada yang masih bisa melihat konten positif di TV? Sila pilih program yang bagus, tonton bersama dengan anak-anak, kalau bisa dibatasi di akhir pekan saja. Kalau saya dan keluarga sih sudah berhenti nonton TV :)

~ A.K.

Tuesday, February 09, 2016

KOMPLET

My two beautiful and smart daughters. I'm complete alright.
"Kapan nambah anak satu lagi? Yang cowok, biar komplet!"
Saya agak gimanaaa gitu kalau denger kalimat di atas. Biasanya sih memang diucapkan dengan nada guyon, atau basa-basi kalau nggak ada hal lain yang bisa diomongkan. Saya biasanya juga cuma nyengir aneh. Mesti jawab apa coba? 


Pertama, kita tidak bisa memilih jenis kelamin anak. Semua juga tahu, kan? Kekhawatiran saya, keputusan untuk memiliki anak berikutnya hanya karena preferensi jenis kelamin, dan akhirnya tidak terkabulkan, akan menimbulkan kekecewaan dan berakibat buruk pada bayi.

Yang kedua, saya sudah merasa komplet dengan dua anak sekarang ini, perempuan semua. Kalau pun misalnya saya diberi anak laki-laki semua, insyaallah saya juga akan merasa komplet. Apa sih sebenarnya bedanya memiliki anak laki-laki dan anak perempuan? Kalau perempuan bisa didandani, diajari menjahit, diajak masak bareng? Well, anak perempuan pertama saya nyatanya tidak suka didandani. Kalau pun misalnya saya punya anak laki-laki pun tetap akan saya ajari ketrampilan dasar memasak, menjahit, mencuci baju, merawat adiknya, dan lain-lain. Anak-anak saya yang perempuan juga suka bermain Lego, mahir merakit robot, mobil dan jet. 

Sungguh, saya sudah merasa komplet, meski tidak bisa menggelar hajat sunatan :p

~ A.K.